Bangunan Sejarah

Minggu, 28 Agustus 2011

Menggali jejek stasiun Batavia

Situs Betawi

Assalamualaikum Wr Wb
Buat Encang ,Encing , Enyak , Babe ...
Situs Betawi atau blog ini dibuat untuk ikut berpartisipasi serta ikut menjaga dan melestarikan tradisi , budaya dan sejarah Betawi.Adanya situs atau blog ini diharapkan dapat ikut melestarikan beberapa catatan sejarah yang masih tersisa yang dapat di dokumentasikan dan di publikasikan bagi masyakat Indonesia dan khususnya generasi muda Betawi.
Selain itu juga diharapkan dengan adanya media ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang budaya,adat istiadat dan kehidupan masyarakat Betawi.Diharapkan generasi muda kita lebih cinta dengan budayanya sendiri dari pada budaya asing yang kian mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.Semoga adanya situs atau blog saya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat di jadikan bahan acuan dalam mempelajari tradisi dan budaya betawi.
Saya harapkan sumbangsih masyarakat Indonesia atau masyarakat Betawi sendiri pada khususnya mau membantu memberikan bahan-bahan atau materi tulisan atau dokumentasi atau pengalamannya pada situs atau blog ini guna memperkaya khasanah ilmu dan budaya Betawi itu sendiri.Kritik dan saran yang membangun saya harapkan guna menjadikan situs atau blog ini menjadi jauh lebih baik lagi dari sekarang.




Wahyudin








Menggali Jejak Stasiun Batavia Noord dan Batavia Zuid

Sabtu, 13 Februari 2010





Kawasan sekitar bangunan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota atau dahulu disebut Stasiun Batavia Selatan. Gambar ini menunjukkan kondisi tahun 1930, saat stasiun ini baru saja dioperasikan.


DALAM sejarah perkeretaapian di Indonesia, pembangunan jalur kereta api di Jakarta baru dimulai tahun 1870. Jalur pertama yang dibikin Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini menghubungkan Kleine Boom di Pelabuhan Sunda Kelapa ke Koningsplein (Gambir). Di tahun 1873, NISM membuka jalur Batavia ke Buitenzorg (Bogor). Di Batavia, stasiun pusat kala itu adalah Station Batavia. Stasiun inilah yang kemudian dikenal sebagai Batavia Noord (Batavia Utara) dan letaknya kini ada di sekitar gedung BNI 46 Jakarta Kota.

Selain jalur Batavia-Buitenzorg, perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (BOSM) juga membuka jalur baru yang mengantarkan penduduk dari Batavia ke Bekassie, Caravam (Karawang), bahkan hingga ke Bandung. Stasiun milik BOSM itu kemudian diperkirakan menjadi alasan mengapa nama Beos muncul. Meski ada alasan lain yang mungkin lebih tepat yaitu bahwa jalur ini disebut sebagai jalur yang melayani Batavia En Omstreken – BEOs (Batavia dan sekitarnya). Stasiun ini dikenal juga dengan nama Batavia Zuid (Batavia Selatan).

Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh perusahaan kereta api negara (Staatsspoorwegen- SS). Batavia Zuid malah sudah menjual jalurnya kepada SS pada 1898 hingga ditutup sekaligus dibongkar pada sekitar 1926 untuk kemudian menjadi stasiun utama bernama Station Batavia Benedenstad (pada 8 Oktober 1929) atau kini menjadi Stasiun Jakarta Kota. Meski demikian, nama Beos masih juga melekat pada stasiun tersebut. Sementara itu, pada tahun 1929, Station Batavia Noord berhenti beroperasi dan kemudian bangunannya dibongkar.

Untuk merayakan 80 tahun Stasiun Jakarta Kota bikinan arsitek FJL Ghijsels itu, maka pada Minggu 8 November mendatang PT KA bersama Indonesian Railway  Preservation Society (IRPS) dan Sahabat Museum akan menggelar acara Plesiran Tempo Doeloe di Stasiun BEOS (Stasiun Jakarta Kota).  Acara dimulai pukul 07.30 dan peserta dikenai biaya Rp 75.000/orang. Pendaftaran dilakukan ke Sahabat Museum via email ke adep@cbn.net.id.

“Kita akan jalan kaki menelusuri jejak bekas Station Batavia Zuid dan Batavia Noord. Jadi kita akan jalan ke belakang gedung BNI 46, ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta sampai ke Kantor Pajak. Bekas rel masih ada yang kelihatan, tapi sudah banyak yang hilang karena di sana kan jadi permukian padat,” jelas Ade Purnama, Ketua Sahabat Museum.

Selain IRPS, acara ini juga akan diisi oleh penampilan ludruk yang mengangkat tema Pelancong Djadoel, penjelasan Stasiun Jakarta Kota dari sisi arsitektur oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), serta film dokumenter tentang kereta api di tahun 1929.

Seperti pernah ditulis sebelumnya, Johan Louwrens (FJL) Ghijsels adalah arsitek Belanda yang bangunannya banyak yang masih tegak berdiri di tanah bekas Batavia ini. Selain Stasiun BEOS, di Kalibesar, anak Belanda kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, itu menorehkan karya dalam bentuk Kantor John Peet & Co yang sekarang jadi PT Toshiba dan gedung Kantor Maintz & Co yang sekarang PT Samudera Indonesia.

Di Jalan Kunir, di tempat yang kini tertutup pagar seng dan sepertinya dibiarkan tak terpakai, bisa Anda intip ada bangunan megah di dalamnya. Itu adalah bekas gedung Geo Wehry & Co. Gedung Geo Wehry yang didesain Ghijsels juga masih berdiri di Kota Lama Padang, Sumatra Barat. Hanya saja kondisinya jauh lebih buruk dari gedung  Geo Wehry di Jalan Kunir, Jakarta Barat. Bangunan lain yang juga populer dan masih digunakan adalah RS Pelni Petamburan, Jakarta Pusat, yang dulunya adalah Rumah Sakit KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Gedung KPM lain ada di Jalan Medan Merdeka Selatan, kini menjadi Kantor Departemen Perhubungan Laut, Gereja Katolik Meester Cornelis (Gereja Katolik St Yoseph di Matraman, Jakarta Timur), dan Gereja Protestan Paulus di Menteng.

Ghijsels memang tak bekerja sendirian. Ia tergabung dalam Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA) -  sebuah biro umum sipil dan arsitektur yang didirikan pada tahun 1916.


Sumber :
Pradaningrum Mijarto ( Warta Kota )

Dari Prinsen Straat ke Prinsen Park


Prinsen Straat (sekarang Jalan Cengkeh) di tahun 1860-an dengan Gerbang Amsterdam di kejauhan.

PERNAH dengar nama Prinsen Park? Kini namanya menjadi Lokasari, Mangga Besar, Jakarta Barat. Prinsen Park tak ada hubungan dengan Prinsen Straat. Itu juga jika Anda sekalian pernah dengar ada nama jalan tersebut. Prinsen Straat, Prince Street, kini menjadi Jalan Cengkeh, Jakarta Barat. Jalan Cengkeh berada di lingkaran utama kawasan Kota Tua Jakarta.Dari Prinsen Straat, akan terlihat Amsterdam Poort (Amsterdam Gate) di kejauhan. Di tahun 1867, fotografer  Jacobus Anthonie Meesen mengabadikan Prinsen Straat dengan Gerbang Amsterdam di kejauhan. Ia mengambil gambar dari titik pertemuan Prinsen Straat, Pasar Pisang, dan Leeuwinnen Straat (kini Jalan Cengkeh, Jalan Kalibesar Timur 3, dan Jalan Kunir). 


Posisi Gerbang Amsterdam berhadap-hadapan dengan stadhuis atau balai kota yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta (MSJ).Pendatang dari Eropa yang mengunjungi Batavia melalui laut sebelum 1885 –  ketika Tanjungpriok selesai dibangun – akan berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa dan melintas di sepanjang sisi selatan Prinsen Straat. Mereka akan terus melaju ke arah selatan menuju Weltevreden. Di tahun 1860-an jalan ini merupakan salah satu jalanan sibuk dengan kegiatan bisnis dan perdagangan, khususnya di siang hari. Di malam hari kawasan ini sepi karena para pekerja yang kebanyakan orang Eropa memilih tinggal di “kota atas”, Weltevreden.Hingga abad 20, kawasan Prinsen Straat atau Jalan Cengkeh berisi berbagai kantor, gudang, dan bangunan bisnis milik bangsa Eropa.Gerbang Amsterdam, demikian ditulis Scott Merrllees dalam Batavia in The Nineteenth Century Photograhps, merupakan satu-satunya peninggalan dari Kastil Batavia yang dihancurkan  Daendels pada sekitar 1808-1809. Gerbang itu merupakan pintu masuk Kastil Batavia sisi selatan dan terletak di sisi utara dari stadhuis. Amsterdam Poort pertama kali dibangun pada abad 17. Sampai abad 19, gerbang ini terus mengalami perubahan. Misalnya, di zaman Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang berkuasa pada 1743-1750, gerbang itu berganti gaya menjadi Rococo.

Di abad 18 itu juga, sayap gerbang berbentuk melengkung yang dihubungkan dengan bangunan yang membentuk bagian benteng. Ketika Daendels menghancurkan kastil, hanya gerbang ini yang selamat. Pada 1840-an gerbang itu dibangun kembali dengan patung Mars dan Minerva yang dipasang di sisi kiri dan kanan gerbang bagaikan sepasang penjaga. Lain kisah dengan Prinsen Park yang adalah tempat hiburan beken pada masanya. Di lokasi yang kurang lebih seperti pasar mala mini, ada bioskop, restoran, tempat nonton komedi stamboel, dll.Sayangnya kemudian Prinsen Park dilebur menjadi kawasan Lokasari yang meskipun ingin mencoba mirip dengan Prinsen Park, tetap saja yang muncul adalah kesan hiburan “remang-remang”. Kumpulan kuliner di sana bisa dibilang oke tapi tempat hiburannya, apalagi di malam hari, sudah tak lagi bisa menampung anak-anak atau orang dewasa yang ingin menonton kesenian. Kesenian dalam arti yang sebenarnya, tentu saja. Bagaimanapun, tempat-tempat tadi layak jadi alternatif jalan-jalan murah di akhir pekan ini. Berharap saja udara sedikit bersahabat.


Sumber : 
Pradaningrum Mijarto
http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/01/23/14254437/dari.prinsen.straat.ke.prinsen.park.#

'Naar Boven' ke Tanahabang, Jangan Lupa Membatik


Tanah Abang dilihat dari dataran tinggi Weltevreden dengan Trem Elektrik milik Bataviasche Elektrische Tram Maatschappi.


LORD George Macartney, sempat mampir ke Batavia di sekitar akhir abad 18, tepatnya di tahun 1793. Ia bahkan sempat menikmati pesta yang luar biasa mewah, anggur Madera (Madeira) – anggur beken asal Portugis – pun tak henti dituang bagi duta pertama Inggris untuk China itu. Pergelaran wayang China dan atraksi kembang api yang bagaikan letusan gunung api menambah meriah suasana. Dan pastinya, yang tak terlewatkan, dansa dansi sampai pagi.

Demikian sepenggal kisah Lord Macartney di Batavia, dalam rangka menuju China. Rangkaian kegiatan di Batavia ditulis Macartney dalam sebuah jurnal. Jurnal itu ditulis ulang oleh Junus Nur Arif dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe. Ketika kapal Lion, kapal yang ditumpangi Macartney mendekat ke daratan, pejabat Belanda pun sibuk menyambut. Pesta hingga subuh itu digelar di rumah kediaman seorang anggota dewan Belanda, Wiegerman. Kediaman Wiegerman berada di luar Kota Batavia, di kawasan yang disebut udik, bernama Tebanang, De Nabang, atau Tanahabang. Dari Batavia ke Tenabang, orang biasa menyebut, naar boven.

Dalam beberapa referensi tentang sejarah Tanahabang, nama Tanahabang mulai muncul di abad 17. Diduga, nama itu berasal dari tentara Mataram yang datang menyerbu VOC di Batavia tahun 1628.  Di dataran berbukit bertanah merah dan berawa itulah pangkalan tentara Mataram. Kawasan ini di masa itu juga masih menjadi kebun teh, melati, kacang, sirih, jahe. Kawasan ini juga dialiri Kali Krukut. Di masa itu yang namanya Tanahabang meliputi hingga kawasan Weltevreden, Molenvliet West sampai Rijswijk.

Sebuah foto dari tahun 1875, koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean Studies)  atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, menunjukkan gardu penjagaan yang berbentuk seperti kotak lengkap dengan dua nama di pojok kiri dan kanan atas yaitu Tanahabang dan Rijswijk. Di masa itu, rumah gardu memang dibangun pada jarak-jarak tertentu.

Referensi lain menyebutkan, nama Tanahabang resmi digunakan setelah Jawatan Kereta Api membangun stasiun kereta api di tahun 1890. Stasiun itu kemudian diberi nama Tanahabang, bukan Tenabang (dari De Nabang, nama sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah itu) seperti yang selalau disebutkan warga kala itu.














Tanah Abang West (Jl Abdul Muis) di sisi kiri ada kanal, tahun 1860-an.



Kawasan luas itu memerlukan lalulintas penghubung, yaitu kanal. Satu nama yang tak bisa dilupakan dalam pembuatan kanal di Batavia adalah Kapitan China Phoa Bing Gam. Pada 1648 ia menggali terusan di Molenvliet sampai ke Kali Ciliwung di sisi timur, ke barat hingga ke ujung Kebon Sirih – kini got yang mengalir di sepanjang Jalan Tanah Abang Timur/Abdul Muis.

Tak hanya urusan kanal, Bing Ham juga mengupayakan perkebunan tebu dan pengolahan gula. Dari sinilah muncul pula pabrik arak. Dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, Bondan Kanumoyoso mencatat,  di Batavia ada dua perusahaan dagang milik Belanda yang memproduksi minuman beralkohol (arak), RF Van der Mark dengan pabrik minuman mengandung alkohol (Batavia Arak Maatschappij) dan Handels Vereeniging dengan pabrik Oost-Indie minuman beralkohol (Arak Fabriek Aparak).

Kisah tentang Tanahabang pastinya lumayan bertumpuk. Ada satu kisah tentang sebuah gedung yang semula dimiliki warga Prancis dan kemudian beberapa kali berpindah tangan. Tahun 1942, bangunan dengan halaman luas itu dibeli Dr Karel Christian Cruq dari tangan seorang konsul Turki. Di masa revolusi, rumah itu dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada 1947, rumah itu dibeli seorang pengusaha bernama Lie Soin Phin yang kemudian dikontrakkan ke Departemen Sosial. Tahun 1952 Depsos justru membelinya dan bulan Oktober 1975 diserahkan ke Pemda DKI untuk dijadikan museum. Museum yang di bagian depannya masih saja dihiasi pedangang kaki lima, dan berada di kawasan kumuh di Jalan Petamburan, itu tak lain adalah Museum Tekstil.

Di sini, pengunjung bisa melihat koleksi alat tenun nonmesin yang dibuat tahun 1927 dan gedogan (alat tenun tradisional) serta beragam koleksi kain batik, ikat, kain tradisional, lukisan tangan, dan prada. Selain itu tersimpan pula Bendera Kraton asal Cirebon buatan tahun 1776 yang merupakan panji kebesaran Kesultanan Cirebon dan kain adat asal Bali dari abad ke -19. Kain ini disebut juga Geringsing Wayang Kebo, merupakan kain tenun yang pembuatannya paling rumit karena menggunakan teknik ikat ganda. Teknik ini adalah teknik langka yang hanya ada di sedikit negara.

Sri Susuhunan Pakubuwono XII menyumbangkan kain motif batik bernama Tumurun Srinarendra (kelahiran raja). Dibuat oleh almarhum Hardjonegoro untuk dikenakan sendiri pada perayaan ulangtahun Sunan Solo. Tak ketinggalan koleksi baju perang Irian Jaya berbahan rotan dan serat alam. Teknik pembuatan dianyam. Baju ini digunakan sebagai busana suku di Papua untuk melindungi dada dari serangan benda tajam. Di museum ini pengunjung juga bisa belajar membatik.


Sumber : Pradaningrum Mijarto ( Warta Kota )

Kucir Thaucang, Kwa-Thaucang, dan Plaatgramophone







Kucir thaucang










TIO Tek Hong, pria Tionghoa peranakan biasa kelahiran Pasar Baru yang sudah mengirup udara Batavia sejak 7 Januari 1877. Ia bukanlah siapa-siapa, sebelum akhirnya meluncurkan karya kisah kenangan, Kenang-kenangan: Riwajat-hidup Saja dan Keadaan di Djakarta dari Tahun 1882 sampai Sekarang. Karya itu terbit tahun 1959. Melalui karya itu, ia seperti mengizinkan generasi di masa kini bahkan mendatang, meminjam matanya untuk melihat Jakarta di abad 19 hingga pertengahan abad 20. Lebih tepat lagi, menengok bagaimana warga Tionghoa peranakan menjalani hidup di masa itu.
Masa kecil Tek Hong dihabiskan layaknya anak lain, bermain di sungai, mengadu gundu, dll. Di masa kecilnya, ia menggambarkan, kali yang mengalir di Pasar Baru sebagai kali favoritnya untuk berenang hingga ke Gunung Sahari. Tak hanya Batavia yang diceritakan Tek Hong, tapi juga sebagain Jawa, kota-kota di mana ia pernah singgah berlibur.
Ada satu kisah yang menarik ihwal perbedaan warga Tionghoa peranakan di Surabaya dan Betawi di tahun 1905. Menurut Tek Hong, Tionghoa peranakan di Surabaya mengungguli Tionghoa di Betawi dalam banyak hal. Sebut saja dalam hal berupaya, berusaha sehingga di Surabaya ia kagum bisa bertemu pemimpin muda yang sudah punya toko besar. Kaum pria Tionghoa di Surabaya sudah mengenakan jas buka dan dasi serta pandai berbahasa Tionghoa dalam dialek Hokkian. Pada saat yang sama di Batavia, pria Tionghoa masih memakai baju tuikhim (baju tanpa kerah) dan celana komperang. Di baju tuikhim itu ada kantong titou yang biasa untuk menyelipkan kuncir rambut (thaucang).
Thaucang adalah rambut di bagian belakang kepala anak laki-laki yang dipelihara dalam bentuk bundar. Bundaran itu diberi nama serabi. Sejak usia 10 tahun anak laki-laki memelihara “serabi” tadi dan jika rambut “serabi” sudah panjang, rambut itu dikepang menggunakan sutera kuncir berwarna merah.
Tradisi thaucang, menurut Tek Hong, dimulai tatkala orang Manchu menduduki Tiongkok pada 1644. Kaisar Manchu mewajibkan orang Tiongkok memakai thaucang, mengenakan pakaian yang ujung lengannya berupa kaki kuda sehingga saat berlutut orang-orang ini bagaikan kuda. Sebuah penghinaan. Jadi thaucang sejatinya adalah sebuah penghinaan tapi kemudian menjadi tradisi yang bertahan selama tiga abad. Di Batavia, tulis Tek Hong, potong thaucang terjadi pada 1911.
Kwa-thaucang atau potong thaucang terjadi setelah terbentuk perkumpulan Tiong Hoa Bin Kok pada 1911. Sebelumnya sudah ada pesan dari Peking bahwa memotong kuncir tidak diizinkan tapi tidak dilarang.
Tio Tek Hong tak lupa menceritakan perihal pas jalan yang berlaku bagi orang asing. Ini menyulitkan karena warga selain Eropa diwajibkan membawa pas jalan jika bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Maka warga Tionghoa terpelajar minta persamaan hak dengan warga Belanda, setelah dapat persamaan, di zaman Belanda mereka kembali menjadi “Tionghoa” karena takut diganyang Jepang.
Ia juga terkenal dengan plaatgramophone. Pasalnya, di tahun 1902 bersama saudaranya, tio Tek Tjoe, ia membuka toko di Pasar Baru dengan nama NV Tio Tek Hong. Mulai tahun 1904 toko ini sudah mendatangkan phonograph memakai rol lilin dan setahun kemudian plaatgramophone dari toko Tio Tek Hong sudah mengisi ruang-ruang se-Indonesia memperdengarkan lagu-lagu Melayu, keroncong, stambul, dan lain sebagainya.
Barangkali, menjelang Imlek, ada yang ingin bernostalgia ke Pasar Baru? Masih banyak bangunan lama, toko lama dari zaman Tio Tek Hong. Sebut saja Toko Lie Ie Seng, toko peralatan kantor dan tulis menulis; Toko Sin Lie Seng, toko sepatu tenar di masanya; Toko Jamu Nyonya Meneer; dan Toko Kompak yang adalah bekas toko Tio Tek Hong. Selain toko dan bangunan tua, di Pasar Baru ini terdapat satu kelenteng tua yang mungkin kurang beken dibandingkan beberapa vihara lain di kawasan Kota Tua, Kelenteng atau Vihara Sin Tek Bio.

Sumber : Pradaningrum Mijarto ( Warta Kota )

Legenda Kampung Gedong

Senin, 01 Februari 2010







Landhuis Goeneveld di Tanjung Gedong tahun 1880 (KITLV)








Trah Van Riemsdjik di Groeneveld

Lama-lama gedung itu dikenal dengan sebutan Gedong.
Kondisi bangunan itu tampak sangat memprihatinkan. Selain hanya berupa puing reruntuhan, di dalam reruntuhan yang sudah tidak beratap ini kini dipenuhi puluhan pohon pisang dan tanaman merambat lainnya. Lumut pun  telah menutupi sebagian besar dinding bata reruntuhan setinggi tujuh meter tersebut. Letaknya yang diapit bangunan asrama berlantai tiga membuat reruntuhan bangunan ini semakin tidak "terlihat". Kondisinya semakin diperparah dengan keberadaan tempat sampah besar serta kandang ayam yang terletak di halaman reruntuhan. Sejak terjadi kebakaran besar yang menimpa bangunan ini pada tahun 1985, kondisi bangunan yang terletak dalam area Asrama Polri di jalan Gedong persis tusuk sate Jalan Condet Raya, kampung Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini memang sangat memprihatinkan. Padahal, dari reruntuhan bangunan ini nama kampung Gedong bermula.Mulanya, kawasan yang berada di dekat perempatan pasar Rebo, Jakarta Timur ini bernama Tanjung Timur. Tapi karena keberadaan bangunan inilah, masyarakat Betawi dahulu lebih akrab menyebut kawasan ini dengan nama Kampung Gedong. "Jadi sejak tahun 1800an, warga Batavia lebih mengenal Tanjung Timur dengan nama kampung gedong. Sebab ada satu bangunan besar(gedung, red) milik tuan tanah yang berdiri di tengah-tengah tanah pertanian dan perkebunan milik tuan tanah Belanda yang mendominasi wilayah ini" ujar sesepuh kampung Gedong, Wak Djejeh, 70 tahun kepada VIVAnews, pekan lalu.Meski hanya bangunan tingkat dua, namun karena letaknya yang berada di dataran tinggi membuat bangunan tersebut tampak dari kejauhan seperti gedung megah yang tinggi. Ditambah kondisi kawasan sekitar yang masih rimbun ditumbuhi berbagai pepohonan, membuat keberadaan bangunan tinggi satu-satunya tersebut menonjol di wilayah tersebut. Sebelum terbakar, Wak Djejeh menuturkan bahwa bangunan ini merupakan gedung yang sangat megah. Bangunan bergaya Eropa klasik yang memiliki luas 100 meter ini diapit oleh dua menara besar tiga lantai. Lantai dasar menara digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk pemberontak.Bangunan utama berlantai dua memiliki empat ruang kamar besar di tiap lantainya. Hingga tahun 1980an, halaman sekitar gedung masih dipenuhi pohon besar seperti pohon Asem dan Gandaria. Di halaman depan gedung, terdapat meja batu yang biasa dipergunakan sebagai tempat menanam kepala kerbau untuk keperluan sesajen pada masa itu. Sejarah mencatat, kawasan kampung Gedong awalnya bernama tanah partikelir Tanjoeng Oost (Tanjung Timur). Pemilik kawasan pertama adalah tuan tanah bernama Pieter van de Velde asal Amersfoort, Belanda. Di situlah pada tahun 1750 ia membangun villa yang digunakan sebagai tempat perisitirahatan (Landhuis). Memang keberadaannya yang jauh dari pusat kota Batavia, membuat kawasan Tanjung Timur(sekarang kampung Gedong) dan sekitarnya menjadi tempat favorit untuk membangun gedung peristirahatan serta mengelola tanah pertanian. Gedung ini kemudian diberi nama Goeneveld, yang berarti lapangan hijau. Nama ini disesuaikan dengan pemandangan sekelilingnya yang masih hijau. Pada masa itu, awalnya belum ada perkampunan pribumi. Wilayah ini hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beragam pohon besar. Kawasan Tanjung Timur dan gedung ini tahun demi tahun mengalami pergantian kepemilikan. Tapi Tanjung Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat saat dikelola oleh Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Usahanya pun dilanjutkan oleh menantunya, Tjalling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara yang menikah dengan putri Daniel Cornelius, Dina Cornelia.Ament melanjutkan usaha mertuanya dengan meningkatkan usaha pertanian dan peternakan. Pada pertengahan abad ke-19, di kawasan TanjungTimur dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi.Produksi susunya sangat terkenal di Batavia. Sampai tahun 1942 Groeneveld dihuni keturunan Van Riemsdjik. Kawasan ini Tanjung Timur pun lambat laun mulai dihuni oleh sejumlah pribumi.Pasca kemerdekaan, bangunan ini berubah fungsi menjadi asrama dari pegawai hotel hingga asrama polisi. "Petugas polisi lalu lintas mulai menempati bangunan ini pada tahun 1963" ujar Wak Djejeh yang mengaku pernah menghuni bangunan ini. Seiring pesatnya pembangunan, kawasan ini lambat laun mulai dipadati oleh perumahan warga.Saat kebakaran yang terjadi pada tahun 1985, gedung ini sedang digunakan sebagai asrama polisi. Usai peristiwa kebakaran, kepemilikan gedung inipun diambil alih oleh Pemda. Sedangkan area sekitar gedung, dibangun asrama polisi. "Walau sudah diambil alih oleh Pemda, tapi tidak pernah ada perawatan dari Pemda" ujar Djejeh.Saat ini kampung Gedong telah menjadi kelurahan dalam Kecamatan Pasar Rebo. Sebelah utara kampung Gedong berbatasan dengan kelurahan Tengah, Kramat Jati. Sebelah Selatan berbatasan dengan sungai Ciliwung Tanjung Barat.Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Rambutan, Ciracas dan sebelah selatan berbatasan dengan Cijantung. Karena lokasinya yang strategis, membuat kawasan ini dipadati gedung-gedung perkantoran sehingga warga asli banyak yang telah pindah tempat tinggal di selatan Jakarta."Warga asli sini udah banyak yang pindah entah kemana" ujar Wak Djejeh.


Sumber : Maryadie, Zaky Al-Yamani



 
 
 
 
Copyright © Situs Betawi