Tampilkan postingan dengan label Bangunan Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Sejarah. Tampilkan semua postingan

Menggali Jejak Stasiun Batavia Noord dan Batavia Zuid

Sabtu, 13 Februari 2010





Kawasan sekitar bangunan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota atau dahulu disebut Stasiun Batavia Selatan. Gambar ini menunjukkan kondisi tahun 1930, saat stasiun ini baru saja dioperasikan.


DALAM sejarah perkeretaapian di Indonesia, pembangunan jalur kereta api di Jakarta baru dimulai tahun 1870. Jalur pertama yang dibikin Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini menghubungkan Kleine Boom di Pelabuhan Sunda Kelapa ke Koningsplein (Gambir). Di tahun 1873, NISM membuka jalur Batavia ke Buitenzorg (Bogor). Di Batavia, stasiun pusat kala itu adalah Station Batavia. Stasiun inilah yang kemudian dikenal sebagai Batavia Noord (Batavia Utara) dan letaknya kini ada di sekitar gedung BNI 46 Jakarta Kota.

Selain jalur Batavia-Buitenzorg, perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (BOSM) juga membuka jalur baru yang mengantarkan penduduk dari Batavia ke Bekassie, Caravam (Karawang), bahkan hingga ke Bandung. Stasiun milik BOSM itu kemudian diperkirakan menjadi alasan mengapa nama Beos muncul. Meski ada alasan lain yang mungkin lebih tepat yaitu bahwa jalur ini disebut sebagai jalur yang melayani Batavia En Omstreken – BEOs (Batavia dan sekitarnya). Stasiun ini dikenal juga dengan nama Batavia Zuid (Batavia Selatan).

Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh perusahaan kereta api negara (Staatsspoorwegen- SS). Batavia Zuid malah sudah menjual jalurnya kepada SS pada 1898 hingga ditutup sekaligus dibongkar pada sekitar 1926 untuk kemudian menjadi stasiun utama bernama Station Batavia Benedenstad (pada 8 Oktober 1929) atau kini menjadi Stasiun Jakarta Kota. Meski demikian, nama Beos masih juga melekat pada stasiun tersebut. Sementara itu, pada tahun 1929, Station Batavia Noord berhenti beroperasi dan kemudian bangunannya dibongkar.

Untuk merayakan 80 tahun Stasiun Jakarta Kota bikinan arsitek FJL Ghijsels itu, maka pada Minggu 8 November mendatang PT KA bersama Indonesian Railway  Preservation Society (IRPS) dan Sahabat Museum akan menggelar acara Plesiran Tempo Doeloe di Stasiun BEOS (Stasiun Jakarta Kota).  Acara dimulai pukul 07.30 dan peserta dikenai biaya Rp 75.000/orang. Pendaftaran dilakukan ke Sahabat Museum via email ke adep@cbn.net.id.

“Kita akan jalan kaki menelusuri jejak bekas Station Batavia Zuid dan Batavia Noord. Jadi kita akan jalan ke belakang gedung BNI 46, ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta sampai ke Kantor Pajak. Bekas rel masih ada yang kelihatan, tapi sudah banyak yang hilang karena di sana kan jadi permukian padat,” jelas Ade Purnama, Ketua Sahabat Museum.

Selain IRPS, acara ini juga akan diisi oleh penampilan ludruk yang mengangkat tema Pelancong Djadoel, penjelasan Stasiun Jakarta Kota dari sisi arsitektur oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), serta film dokumenter tentang kereta api di tahun 1929.

Seperti pernah ditulis sebelumnya, Johan Louwrens (FJL) Ghijsels adalah arsitek Belanda yang bangunannya banyak yang masih tegak berdiri di tanah bekas Batavia ini. Selain Stasiun BEOS, di Kalibesar, anak Belanda kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, itu menorehkan karya dalam bentuk Kantor John Peet & Co yang sekarang jadi PT Toshiba dan gedung Kantor Maintz & Co yang sekarang PT Samudera Indonesia.

Di Jalan Kunir, di tempat yang kini tertutup pagar seng dan sepertinya dibiarkan tak terpakai, bisa Anda intip ada bangunan megah di dalamnya. Itu adalah bekas gedung Geo Wehry & Co. Gedung Geo Wehry yang didesain Ghijsels juga masih berdiri di Kota Lama Padang, Sumatra Barat. Hanya saja kondisinya jauh lebih buruk dari gedung  Geo Wehry di Jalan Kunir, Jakarta Barat. Bangunan lain yang juga populer dan masih digunakan adalah RS Pelni Petamburan, Jakarta Pusat, yang dulunya adalah Rumah Sakit KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Gedung KPM lain ada di Jalan Medan Merdeka Selatan, kini menjadi Kantor Departemen Perhubungan Laut, Gereja Katolik Meester Cornelis (Gereja Katolik St Yoseph di Matraman, Jakarta Timur), dan Gereja Protestan Paulus di Menteng.

Ghijsels memang tak bekerja sendirian. Ia tergabung dalam Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA) -  sebuah biro umum sipil dan arsitektur yang didirikan pada tahun 1916.


Sumber :
Pradaningrum Mijarto ( Warta Kota )

Legenda Kampung Gedong

Senin, 01 Februari 2010







Landhuis Goeneveld di Tanjung Gedong tahun 1880 (KITLV)








Trah Van Riemsdjik di Groeneveld

Lama-lama gedung itu dikenal dengan sebutan Gedong.
Kondisi bangunan itu tampak sangat memprihatinkan. Selain hanya berupa puing reruntuhan, di dalam reruntuhan yang sudah tidak beratap ini kini dipenuhi puluhan pohon pisang dan tanaman merambat lainnya. Lumut pun  telah menutupi sebagian besar dinding bata reruntuhan setinggi tujuh meter tersebut. Letaknya yang diapit bangunan asrama berlantai tiga membuat reruntuhan bangunan ini semakin tidak "terlihat". Kondisinya semakin diperparah dengan keberadaan tempat sampah besar serta kandang ayam yang terletak di halaman reruntuhan. Sejak terjadi kebakaran besar yang menimpa bangunan ini pada tahun 1985, kondisi bangunan yang terletak dalam area Asrama Polri di jalan Gedong persis tusuk sate Jalan Condet Raya, kampung Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini memang sangat memprihatinkan. Padahal, dari reruntuhan bangunan ini nama kampung Gedong bermula.Mulanya, kawasan yang berada di dekat perempatan pasar Rebo, Jakarta Timur ini bernama Tanjung Timur. Tapi karena keberadaan bangunan inilah, masyarakat Betawi dahulu lebih akrab menyebut kawasan ini dengan nama Kampung Gedong. "Jadi sejak tahun 1800an, warga Batavia lebih mengenal Tanjung Timur dengan nama kampung gedong. Sebab ada satu bangunan besar(gedung, red) milik tuan tanah yang berdiri di tengah-tengah tanah pertanian dan perkebunan milik tuan tanah Belanda yang mendominasi wilayah ini" ujar sesepuh kampung Gedong, Wak Djejeh, 70 tahun kepada VIVAnews, pekan lalu.Meski hanya bangunan tingkat dua, namun karena letaknya yang berada di dataran tinggi membuat bangunan tersebut tampak dari kejauhan seperti gedung megah yang tinggi. Ditambah kondisi kawasan sekitar yang masih rimbun ditumbuhi berbagai pepohonan, membuat keberadaan bangunan tinggi satu-satunya tersebut menonjol di wilayah tersebut. Sebelum terbakar, Wak Djejeh menuturkan bahwa bangunan ini merupakan gedung yang sangat megah. Bangunan bergaya Eropa klasik yang memiliki luas 100 meter ini diapit oleh dua menara besar tiga lantai. Lantai dasar menara digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk pemberontak.Bangunan utama berlantai dua memiliki empat ruang kamar besar di tiap lantainya. Hingga tahun 1980an, halaman sekitar gedung masih dipenuhi pohon besar seperti pohon Asem dan Gandaria. Di halaman depan gedung, terdapat meja batu yang biasa dipergunakan sebagai tempat menanam kepala kerbau untuk keperluan sesajen pada masa itu. Sejarah mencatat, kawasan kampung Gedong awalnya bernama tanah partikelir Tanjoeng Oost (Tanjung Timur). Pemilik kawasan pertama adalah tuan tanah bernama Pieter van de Velde asal Amersfoort, Belanda. Di situlah pada tahun 1750 ia membangun villa yang digunakan sebagai tempat perisitirahatan (Landhuis). Memang keberadaannya yang jauh dari pusat kota Batavia, membuat kawasan Tanjung Timur(sekarang kampung Gedong) dan sekitarnya menjadi tempat favorit untuk membangun gedung peristirahatan serta mengelola tanah pertanian. Gedung ini kemudian diberi nama Goeneveld, yang berarti lapangan hijau. Nama ini disesuaikan dengan pemandangan sekelilingnya yang masih hijau. Pada masa itu, awalnya belum ada perkampunan pribumi. Wilayah ini hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beragam pohon besar. Kawasan Tanjung Timur dan gedung ini tahun demi tahun mengalami pergantian kepemilikan. Tapi Tanjung Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat saat dikelola oleh Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Usahanya pun dilanjutkan oleh menantunya, Tjalling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara yang menikah dengan putri Daniel Cornelius, Dina Cornelia.Ament melanjutkan usaha mertuanya dengan meningkatkan usaha pertanian dan peternakan. Pada pertengahan abad ke-19, di kawasan TanjungTimur dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi.Produksi susunya sangat terkenal di Batavia. Sampai tahun 1942 Groeneveld dihuni keturunan Van Riemsdjik. Kawasan ini Tanjung Timur pun lambat laun mulai dihuni oleh sejumlah pribumi.Pasca kemerdekaan, bangunan ini berubah fungsi menjadi asrama dari pegawai hotel hingga asrama polisi. "Petugas polisi lalu lintas mulai menempati bangunan ini pada tahun 1963" ujar Wak Djejeh yang mengaku pernah menghuni bangunan ini. Seiring pesatnya pembangunan, kawasan ini lambat laun mulai dipadati oleh perumahan warga.Saat kebakaran yang terjadi pada tahun 1985, gedung ini sedang digunakan sebagai asrama polisi. Usai peristiwa kebakaran, kepemilikan gedung inipun diambil alih oleh Pemda. Sedangkan area sekitar gedung, dibangun asrama polisi. "Walau sudah diambil alih oleh Pemda, tapi tidak pernah ada perawatan dari Pemda" ujar Djejeh.Saat ini kampung Gedong telah menjadi kelurahan dalam Kecamatan Pasar Rebo. Sebelah utara kampung Gedong berbatasan dengan kelurahan Tengah, Kramat Jati. Sebelah Selatan berbatasan dengan sungai Ciliwung Tanjung Barat.Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Rambutan, Ciracas dan sebelah selatan berbatasan dengan Cijantung. Karena lokasinya yang strategis, membuat kawasan ini dipadati gedung-gedung perkantoran sehingga warga asli banyak yang telah pindah tempat tinggal di selatan Jakarta."Warga asli sini udah banyak yang pindah entah kemana" ujar Wak Djejeh.


Sumber : Maryadie, Zaky Al-Yamani



Gedung Kesenian Warisan Raffles

Sabtu, 30 Januari 2010




Jembatan Pasar Baru, Jakarta Pusat diabadikan pada 1880

Jembatan Pasar Baru, Jakarta Pusat diabadikan pada 1880. Di samping kanannya tampak Gedung Kesenian yang dibangun pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816). Dimasa kolonial bernama shouburg. Jalan raya disebelah kiri Pasar Baru dulu bnernama Schoolweg atawa Jalan Sekolah. Karena pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda mendirikan beberapa sekolah diantaranya Europese Lager School yang diperuntukkan hanya untuk orang-orang Belanda.Tampak jalan-jalan masih diterangi oleh lampu gas. Lampu gas mulai nongol di Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) pada 1863. Pertama kali menerangi Istana Risjwijk (kini Istana Negara) pada Oktober 1863, satu tahun setelah berdirinya Perusahaan Gas Hindia Belanda di Gang Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin) di sebelah kiri Jl Gajah Mada dari arah Harmoni. Kini menjadi Perum Gas Negara. Gas menggantikan minyak tanah dan lilin untuk penerangan di rumah-rumah, kantor, pusat perdagangan dan perhotelan.Dalam foto terlihat bagaimana asrinya sekitar Pasar Baru dan Lapangan Banteng dengan pohon-pohon asem di kiri kanan jalan. Sementara kendaraan bermotor belum tampak. Juga tidak terdapat para pedagang kaki lima yang kini mendominasi trotoar di sekitar Pasar Baru hingga Lapangan Banteng dan Jl Gunung Sahari.Gedung Kesenian di Pasar Baru semula hanya terbuat dari bambu beratapkan rumbia. Tentara Inggris membangunnya khusus untuk tempat pementasan perkumpulan drama mereka ketika bercokol di Jawa (1811-1816). Para prajurit Inggris sesuai dengan pimpinannya Sir Thomas Raffles, sangat menyukai kesenian. Buktinya, setahun setelah mereka mendarat di Batavia sejumlah perwira bujangan sudah menyalurkan bakat dan minat mereka.Pada malam peresmian Gedung Kesenian dipentaskan drama Othello karya sastrawan terkemuka William Shakespeare. Seperti juga bioskop yang muncul akhir abad ke-19, penonton pria dan wanita dipisah. Pada zaman Jepang (1942-1945), acara-acara di Gedung Kesenian diisi seniman muda seperti Usmar Ismail, Rosihan Anwar, H.B. Yassin, Soeryo Soemanto, D. Djayakjuysumah, Kusbini dan Cornel Simanjuntak.Pada 29 Agustus 1945 di gedung ini berlangsung sidang pertama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) semacam parlemen sekarang. Dihadiri Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Ketua KNIP Kasman Singodimedjo dari Partai Masyumi. Seorang turis Eropa yang datang ke Batavia setelah peresmian menilai gedung kesenian ini tidak kalah menariknya dari gedung kesenian serupa di Eropa.

Sumber :

Jembatan Prapatan-Kwitang pada 1920-an



Jembatan Prapatan-Kwitang pada 1920-an


Foto yang perkiraan tahun 1920-an adalah jembatan Prapatan-Kwitang, Jakarta Pusat. Jembatan yang masih tampak sederhana itu menghubungkan Pasar Tanah Abang-Pasar Senen. Di sebelah kiri yang dipenuhi pepohonan rimbun, sekarang ini berdiri Hotel Arya Duta, yang sebelumnya adalah rumah besar milik Dr Latif, ayah Herawati Diah, yang juga mertua BM Diah. Di sebelah kanan, sekarng terletak Markas Korps Marinir Angkatan Laut. Di seberang jalan raya, terletak Toko Buku Gunung Agung.

Kala itu, di jalan-jalan, rumah dan hotel masih menggunakan lampu gas seperti yang terlihat di atas jembatan. Sungai Ciliwung masih jernih dan lebar serta berperan penting bagi masyarakat untuk mandi, mencuci, dan buang hajat. Sekarang, Ciliwung kehilangan pamornya dan menjadi selokan besar. Dahulu, ketika kali masih dalam dan lebar, di sekitar Kwitang dan Prapatan, tiap tahun diselenggarakan pesta pehcun untuk memperingati 100 hari tahun baru Cina (Imlek). Pehcun merupakan karnaval perahu yang diramaikan musik dan tanjidor di atas perahu yang hilir mudik di Ciliwung. 

Di jembatan inilah, kira-kira Nyai Dasima, bekas istri piaraan seorang Inggris, dibunuh oleh jagoan Kwitang, Bang Puase. Mayatnya kemudian dibuang ke Ciliwung dari atas jembatan. Nyai Dasima dibunuh ketika hendak kondangan di Rawabelong, Palmerah, Jakarta Barat.

Gadis bahenol dari Kuripan, Ciseeng, Parung, Bogor, ini terbunuh saat naik sado bersama suaminya, Samiun. Samiun adalah tukang sado yang berhasil merebut sang nyai dari suaminya di Pejambon, yang terletak di bagian belakang gedung Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Kwitang, konon berasal dari nama seorang Cina, Kwee Tiang Kam, yaitu penjual obat tradisional yang masyhur. Saking terkenalnya, kediaman penjual obat ini disebut Kwitang. Kwitang makin dikenal di Jakarta dan mancanegara ketika almarhum Habib Ali Alhabsyi membuka majelis taklim di tempat ini pada 1920-an. Tiap Ahad pagi, majelis taklim ini dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai tempat di Jabodetabek.

Sumber : Alwi Shahab, wartawan Republika

Hotel Des Indes Sebelum Digusur



Hotel Des Indes Sebelum Digusur


Dalam acara  Plesiran Tempo Doeloe yang diikuti lebih seribu peserta, , banyak yang menyayangkan Hotel Des Indes yang sangat bersejarah seperti terlihat dalam foto itu digusur dan dijadikan pusat perbelanjaan Duta Merlin.
Hotel yang paling megah di Batavia pada masa Belanda digusur pada 1971. Hotel yang terletak di kawasan Harmoni, tepatnya Jl Gajah Mada, pernah berfungsi sebagai tempat perjamuan negara Hindia Belanda dan tamu-tamu negara sebelum dibangunnya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin pada 1962.
Kompleks Hotel Des Indes, yang berbatasan dengan Bank Tabungan Negara (BTN) di Jalan Jaga Monyet (kini Jl Suryopranoto) dan Chaulanweg (kini Jl Hasyim Ashari), pernah didatangi kepala-kepala negara peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955. Meski KAA berlangsung di Bandung, sebagian dari mereka tinggal di Hotel Des Indes Jakarta, demikian pula saat KIAA (Konferensi Isla Asia-Afrika).
Foto yang diabadikan pada 1930-an ini merupakan gedung baru Hotel Des Indes yang dirancang AIA Bureau dan selesai dibangun pada Maret 1930. Hotel yang telah beberapa kali mengalami perubahan ini didirikan pada abad ke-19 di atas tanah seluas 3,1 hektare. Ketika dibongkar pada 1971, hotel ini berusia 161 tahun. Sampai tahun 1960-an, Hotel Des Indes memfasilitasi acara-acara perkawinan masyarakat golongan atas. Berbagai pesta keramaian berlangsung di sini.
Walaupun dirancang dengan gaya arsitektur lebih modern, menurut Nadia Purwestri, direktur eksekutif Pusat Dokumentasi Arsitektur, bangunan ini tetap mempunyai teras yang lebar dan jendela-jendela besar sebagai ventilasi udara. Hal ini membuat ruang dalam tetap sejuk walaupun di luar panas.
Pada abad ke-19, saat jamuan-jamuan makan, termasuk makan malam, selalu disediakan es yang kala itu masih merupakan barang yang sangat mewah. Warga Barat yang umumnya tidak tahan terhadap udara panas selalu menyediakan es saat makan dan minum. Pada pertengahan abad ke-19, untuk meminum es, seseorang harus mendatangkannya dari Boston, AS. Orang Jakarta menyebutnya es batu yang sampai awal tahun 1960-an dijual di warung-warung Cina dan pedagang minuman di tepi jalan.
Dalam mengimpor es, diperlukan waktu hampir setengah tahun perjalanan dari Boston ke Batavia. Untuk pertama kalinya, kapal bermuatan es dari Boston berlabuh di Ceylon (Sri Lanka) pada April 1840. Lalu, mengapa harus mengimpor es ke nusantara?
Pada waktu itu, orang belum mengenal lemari es. Untuk mendinginkan minuman, orang menggunakan  koelbak , semacam peti yang dilapis timah hitam. Di dalamnya, diisi air dan  salpeter (semacam sendawa atau anorganik kimia). Untuk menghidangkan minuman dingin, orang membungkus botol minuman dengan kain dingin. Pabrik es baru pertama kali dibangun pemerintah pad tahun 1870 di Prapatan, Jakarta Pusat. Kemudian, di Petojo, Jakarta Pusat. Sampai awal 1970-an, kulkas merupakan barang mewah di Jakarta dan jarang yang memilikinya.

Sumber : Alwi Shahab, wartawan Republika
http://koran.republika.co.id/berita/99453/Hotel_Des_Indes_Sebelum_Digusur 

Harmoni di Rijswijkstraat

Harmoni di Rijswijkstraat


Kawasan Harmoni di Rijswijkstraat (kini Jalan Majapahit) Jakarta Pusat diabadikan pada awal abad ke-20. Sulit dibayangkan, kawasan yang begitu asri dan tenang sekitar tiga perempat abad lalu kini hiruk pikuk dengan kendaraan bermotor dan sangat macet.
Di sebelah kiri, terlihat Gedung Harmoni yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Marsekal Willem Herman Daendels (1809) dan diselesaikan oleh Letnan Gubernur Sir Thomas Raffles (1815) pada masa Inggris. Untuk membangun gedung yang megah ini, Daendels mengambil bahan-bahan dari puing-puing di Kota Tua (sekitar Pasar Ikan), Jakarta Utara. Yakni, ketika ia menghancurkan gedung-gedung VOC di Kota Tua. Dia kemudian memindahkan pusat kota ke Weltevreden karena Kota Tua merupakan sarang penyakit.
Gedung Harmoni pada abad ke-19 merupakan rumah perkumpulan tertua di Asia untuk warga Barat. Di gedung ini, kelompok elite Belanda, termasuk para gubernur jenderal, dengan rileksnya menikmati angin segar sambil berdansa di atas batu pualam yang didatangkan dari Eropa.
Harmoni yang dibangun dalam Empire Style memiliki atap yang tinggi dan miring. Itu menunjukkan pengaruh Prancis. Rijswijkstraat, tempat Gedung Harmoni berada, merupakan pusat perbelanjaan dengan toko-toko Prancis (kini di Jl Abdul Muiis). Pada saat Daendels, hubungan Prancis dan Nusantara berkembang erat. Banyak pengusaha Prancis bergerak di bidang perhotelan, pemilik toko roti, toko kacamata, dan toko sepatu. Nama Rijswijk berasal dari kata rijst (persawahan) dan wijk (lapangan luas). Kedua kata tersebut menunjukkan keberadaan tempat ini sekitar dua abad lalu.
Dalam foto, terlihat sado atau delman yang bebas berlalu-lalang dan merupakan angkutan masa itu. Tampak lentera gas yang menerangi jalan-jalan raya pada masa itu. Di kanan, di antara gedung dan pertokoan, terlihat Apotek Rathkamp (kini Kimia Farma), apotek terbesar pada masa itu.
Gedung Harmoni yang bersejarah itu kini sudah merupakan bagian dari tempat parkir Sekretariat Negara. Termasuk, Hotel du Pavilion yang berada satu deretan di belakangnya. Hotel ini milik keluarga Sungkar Alurmei, kakak pembalap nasional Rifat Sungkar.

Sumber : Alwi Shahab - wartawan Republika
http://koran.republika.co.id/berita/100992/Harmoni_di_Rijswijkstraat 

Balai Kota VOC dan Gereja Belanda

Balai Kota VOC dan Gereja Belanda


Johannes Rach (1720-1783), mayor artileri VOC kelahiran Denmark, melukis   Balai Kota Batavia (dalam bahasa Belanda disebut stadhuis) yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta di Jalan Fatahillah 1, Jakarta Barat. Di sebelah kanan jajaran pohon kenari, terdapat Gereja Belanda Lama (Oude Hollandshe Kerk-1736-1808) yang kini menjadi Museum Wayang di Jalan Pintu Besar Utara 27, Jakarta Barat. Balai Kota yang diresmikan pada 1710 merupakan balai kota baru setelah dibangun balai kota pertama tahun 1620 pada masa Gubernur Jenderal JP Coen. 
Sebelah kiri pepohonan rindang yang kini menjadi jalan lalu lintas padat, pada pertengahan abad ke-18, merupakan kanal (kali sodetan) yang diberi nama Tigersgrach atau Terusan Macan. Kanal yang berasal dari Ciliwung dan bermuara di Teluk Jakarta itu kini sudah tidak ada lagi.
Sampai awal abad ke-19, sebelum warga Eropa ramai-ramai meninggalkan kota tua, kawasan itu merupakan daerah elite. Gedung-gedung yang terlihat di sepanjang jalan adalah kediaman mereka. Sementara itu, Tigersgracht merupakan tempat rekreasi. Sambil mandi dan berenang, mereka bersampan di seputar kanal yang airnya masih jernih.
Di depan gereja, terlihat sebuah kereta kuda yang dinaiki kepala Pengadilan Belanda. Di belakangnya, ada dua orang budak yang siap memayunginya.
Kala itu, kebiasaan bagi pejabat VOC dan istrinya, bila bepergian, para budak belian akan memayunginya. Di tengah halaman balai kota, terlihat air mancur yang sekaligus menjadi tempat penjernihan air minum warga kota.
Balai Kota Jakarta pada masa VOC ini letaknya kurang lebih berada di tengah Kota Batavia, yaitu bagian Jakarta yang sampai 1809 dikelilingi tembok.
Gedung ini berhubungan erat dengan baik buruknya puluhan ribu warga Kota Batavia dari aneka suku bangsa. Balai kota selama dua abad memiliki berbagai fungsi, misalnya mengurus pernikahan dan pengadilan. Pada masa VOC (sampai 1800), keputusan hakim tidak selalu adil, bahkan sangat tidak adil. Mungkin, kondisi itu sama dengan mafia hukum pada saat ini yang tanpa mengenal malu memperjualbelikan perkara dengan cara menyogok hakim dan jaksa.
Di sebelah kanan balai kota dulu, terdapat tiang gantung untuk mengeksekusi orang-orang yang dikenai hukuman mati. Di bawah gedung ini, terdapat penjara bawah tanah yang menyeramkan dan sangat berbeda dengan Lapas Pondok Bambu. Di penjara wanita Pondok Bambu ini, seorang yang dijerat karena korupsi mendapat tempat layaknya penghuni hotel berbintang. Begitu juga di penjara-penjara lain yang kini tengah ditertibkan.

Sumber : Alwi Shahab

Jembatan Willem di Depan Istiqlal



Foto sekitar awal abad ke-20 ini menunjukkan suasana di Brug (Jembatan) Willemslaan (kini Jalan Perwira), Jakarta Pusat. Jembatan ini berada di atas Sungai Ciliwung yang berdampingan dengan Masjid Istiqlal saat ini.Melalui foto tersebut, terlihat beberapa orang tengah berdiri di jembatan. Saat itu, Sungai Ciliwung masih lebar dan dalam.
Di Jl Perwira sekarang ini, jembatan tersebut sudah tidak terlihat lagi. Letak Masjid Istiqlal yang mulai dibangun setelah Indonesia merdeka kira-kira berada di sebelah kanan taman dan pepohonan yang dulu. Sebelum dibangun Istiqlal, taman itu bernama Wilhelmina Park yang diambil dari nama Ratu Belanda Wilhelmina. Dia adalah nenek Ratu Beatrix dan ibu Ratu Juliana. Wilhelmina Park merupakan salah satu tempat rekreasi yang terkenal di Batavia tempo dulu. Di sini, terdapat kebun yang luas dan konon terdapat >bunkir>, semacam terowongan yang menembus hingga ke istana. Karena itu, orang Betawi menyebutnya 'Gedung Tanah'.
Nama Willemslaan (Jl Willems) diambil untuk mengabadikan nama raja Belanda. Dia adalah kakek Ratu Wilhelmina dan ayah Ratu Emma. Selama empat generasi, Belanda diperintah seorang ratu dan baru sekarang ini memiliki putra mahkota yang akan menggantikan Ratu Beatrix. 
Di sebelah kiri foto, terlihat sebuah pohon beringin besar. Kira-kira, di tempat inilah, pada tahun 1930-an, dibangun gedung Pertamina. PAda waktu bersamaan, di sebelahnya, terdapat gedung Direktorat Jenderal Perhubungan Laut yang pada masa Belanda merupakan kantor pusat KPM (Koninklike Paaketvard Matschapij). KPM ini memiliki lebih dari 100 armada samudra yang berlayar ke berbagai tempat di nusantara dan mancanegara. Setelah kemerdekaan, KPM dinasionalisasi dan menjadi Pelni (Perusahaan Pelayaran Nasional).
Willemslaan (Jl Perwira) pada masa kolonial merupakan kawasan yang elite dan asri karena sangat teduh. Sekarang, kawasan yang diberlakukan satu jalur ini sangat padat dan sebagian menjadi tempat parkir jamaah yang mengunjungi Masjid Istiqlal. Ketika hari-hari besar Kristen, seperti Natal, sebagian umat Kristiani memarkir kendaraannya di halaman Istiqlal sebagai lambang kerukunan beragama.
Pada masa kolonial, banyak nama jalan, jembatan, taman, dan lapangan yang diberi nama tokoh masyarakat Belanda. Misalnya, Juliana Weg (kini Jalan Slamet Riadi), Jan Pieterzoonweg (kini Jl Sultan Agung di Manggarai), Amsterdan Straat (kini Kalibesar Timur I), Benaris Gang (kini Jl Rawamangun), dan masih banyak lagi. Jalan Bungur Besar pada masa kolonial bernama Defensielejn van den Bosh, yaitu nama gubernur jenderal VOC dan garis pertahanan kota di bagian selatan.

Sumber : Alwi Shahab, wartawan Republika
http://koran.republika.co.id/berita/101623/Jembatan_Willem_di_Depan_Istiqlal 

Arsitektur Rumah Betawi

Sabtu, 23 Januari 2010




 “MASYARAKAT Betawi tergolong masyarakat rawa. Itu sebabnya mereka mengenal model rumah panggung,” kata Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang sedang menyiapkan peluncuran buku riset sejarah garapannya: Babad Tanah Betawi.Namun, Ketua Tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi (PPBB) Agus Asenie Dipl Ing, praktisi arsitektur berpendapat, masyarakat Betawi sebenarnya tinggal di habitat yang beragam, sejak pesisir hingga pedalaman. Bahkan, sekarang juga tinggal di wilayah urban padat penduduk di tengah Kota Jakarta.“Sehingga rumah panggung bukan satu-satunya sistem rumah tradisionilnya. Arsitektur rumah Betawi juga mengenal rumah darat. Jadi memang ada variasi pola arsitektur rumah sesuai dengan rentang sebaran komunitas Betawi dari pesisir yang mencari nafkah sebagai nelayan hingga pedalaman yang bercocok tanam padi sawah,” kata Agus, putra Betawi juga, asal Slipi.Dua tahun terakhir Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI melalui Tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi yang dipimpin Agus Asenie melaksanakan proyek pemugaran sebuah rumah tradisional dan pembuatan rumah baru berarsitektur tradisional Betawi di kampung Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.Ini satu bagian kecil saja dari rencana proyek berjangka multi tahun di atas lahan 165 Ha, yang tidak saja bertujuan mengkonservasi arsitektur tradisional Betawi di kawasan itu, tapi juga berusaha membuat daerah tujuan wisata baru di selatan Jakarta. Lokasinya ideal karena adanya Danau Setu Babakan, berudara sejuk (24-26 derajad Celsius), berkontur (naik turun), dan sudah dihuni oleh komunitas Betawi yang masih lumayan mengukuhi adatnya.Setiap Sabtu dan Minggu, di panggung berarsitektur Betawi yang dibikin oleh Tim PPBB sudah rutin berlangsung atraksi wisata seperti tari ondel-ondel juga upacara adat seperti perkawinan dan khitanan, yang sudah mulai dikunjungi turis manca negara. Tahun lalu jumlah pengunjung sudah mencapai 10.000 orang, dengan salah satu daya tarik utama sebuah situs rumah tradisional Betawi yang dipugar PPBB milik warga setempat bernama Pak Samin Jebul (60).MENURUT hitungan kasar Ridwan Saidi, saat ini ada tak kurang dari 3.000 rumah berarsitektur tradisional Betawi di kawasan hunian komunitas Betawi, sejak kawasan Pulau Seribu di utara, hingga Cileungsi di selatan, sejak Balaraja (Tangerang) di barat sampai Cikarang (Bekasi) di timur.Sebegitu jauh, baik Ridwan Saidi maupun Agus Asenie mengutarakan, belum ada sumber sekunder yang berasal dari kalangan akademik tentang arsitektur rumah Betawi. Tidak ada primbon atau pustaka klasik yang berisi kodifikasi arsitektur Betawi, sehingga Ridwan mengaku harus meraba sendiri ciri khas arsitektur rumah Betawi ini ketika meneliti, seraya dibandingkan dengan arsitektur rumah tradisional suku lain. Misalnya, bahwa masyarakat Betawi tidak mengenal fengshui, hukum arah angin sebagaimana masyarakat Tionghoa.“Betawi pada awalnya adalah masyarakat river basin. Mereka membangun masyarakat
berkelompok sepanjang sungai-sungai di kawasan ini. Ada belasan sungai besar di kawasan ini. Pintu depan rumah menghadap ke arah sungai. Akibatnya, setelah perlahan-lahan rumah Betawi masuk ke pedalaman, arah hadap rumah Betawi tidak teratur seperti rumah di Jawa yang berjajar menghadap jalan. Tetapi, sisa-sisa budaya DAS-nya masih tertinggal, biasanya dalam bentuk adanya sumur gali di depan rumah. Anda ingat Mandra atau Basuki di serial Si Doel kalau mandi di sumur di depan rumah mereka,” katanya. Sekarang ini, terkena budaya kontemporer yang membataskan jumlah lahan yang kian
menuntut pola arsitektur compact (ringkas), kata Agus, sumur depan rumah sudah kian hilang. Digantikan pompa-pompa listrik yang dipasang di belakang rumah. Pada dasarnya ada tiga zoning di rumah tradisional Betawi, kata Ridwan Saidi. Kurang lebih mengikuti hukum arsitektur modern juga, kawasan publik (ruang tamu), kawasan privat (ruang tengah dan kamar) dan kawasan servis (dapur), tambah Agus. Dalam bahasa Betawi, kawasan publik yang berupa ruang tanpa dinding ini kawasan amben, disusul ruang tengah yang didalamnya ada kamar yakni wilayah pangkeng. Paling belakang adalah dapur atau srondoyan.Masing-masing kawasan ini bisa merupakan bangunan sendiri, dengan pola atap sendiri. Bisa pula satu rumah utuh dengan sebuah saja pola atap, yang terbagi dalam tiga zona tadi. Variasi ini ditentukan status sosial ekonomi penghuninya. Jika setiap zona punya satu pola atap, masing-masing bisa berupa salah satu dari model atap pelana (segitiga sama sisi), atau limas dengan dua kali “terjunan” air hujan yang sudutnya berbeda. Atau lagi kombinasi dari kedua sistem atap ini.Pilihan pola atap menurut Ridwan Saidi, tampaknya tidak terlalu menjadi tuntutan dalam arsitektur tradisional Betawi. Tidak seperti di Jawa yang sampai perlu ada selamatan khusus untuk itu. Bagi komunitas Betawi yang penting justru pembangunan pondasi rumah. Itu sebabnya, mereka mengenal selamatan “sedekah rata bumi". Hanya saja, sambung Ridwan, selamatan ini dilakukan sesaat setelah kuda-kuda atap rumah sudah sempurna berdiri.Ridwan mencatat ada sebuah sudut penting, bahkan sakral dalam arsitektur Betawi.Yakni, konstruksi tangga, yang diistilahkan balaksuji. Sayangnya ini agak sulit ditemukan di rumah Betawi bukan panggung. Balaksuji adalah konstruksi tangga di rumah panggung Betawi. Rumah darat kadang-kadang juga punya, jika lantaran “kultur rumah panggung", membuat pemilik rumah sengaja meninggikan lantai rumahnya dari permukaan tanah sekitar. Pada kasus demikian pemilik rumah juga membuat balaksuji, tangga menuju rumah.Tak ada konfirmasi literer soal ini. Hanya saja Ridwan menjelaskan, inilah (boleh jadi) arti harafiah dari istilah “rumah tangga” yang dikenal selama ini.“Sebuah keluarga yang utuh tinggal di rumah yang ada tangganya. Makanya, bernama rumah tangga. Tangga balaksuji ini bagian rumah yang sarat nilai filosofi. Bisa disamakan dengan tangga spiritual dalam tradisi Betawi. Mungkin bisa diidentikkan dengan prinsip tangga dalam arsitektur kebudayaan lain, seperti Borobudur, atau suku kuno Inca. Bahwa memasuki rumah lewat tangga adalah proses menuju kesucian. Idealnya jika ada sumur di depan rumah, siapa pun yang hendak masuk rumah harus membasuh kakinya dulu, baru naik tangga, sehingga masuk rumah dalam keadaan bersih. Ini memang bukan soal fungsi, tapi perlambang,” katanya.Di rumah modern yang dihuni masyarakat Betawi sekarang, banyak hal sudah hilang, termasuk tangga balaksuji ini. Hanya saja, kata Ridwan, di sejumlah kampung balaksuji dipertahankan, atau pindah lokasi. Tangga ini tidak ada di rumah penduduk, tapi ada di masjid kampung. Balaksuji dipasang di tempat khotib berkhotbah. Tangga ini menjadi tangga menuju mimbar. Kesuciannya dipertahankan di rumah ibadah. 


Sumber: Harian Kompas, Minggu, 21 April 2002

Langgar Tinggi & Masjid Tertua di Jakarta

Kamis, 21 Januari 2010



Dari dua tiang bulat besar beranda lantai dua Langgar Tinggi di Jalan Raya Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, menghadap ke Kali Angke terhampar pemandangan hiruk-pikuk kota lama Jakarta. Deretan rumah-rumah China sebentar-sebentar menghilang oleh badan kendaraan yang bergerak merayap.

Dahulu banyak perahu dan rakit dari Tangerang menyusur Kali Cisadane masuk Kali Angke membawa bahan bangunan, kain, rempah-rempah, duren, nangka, dan kelapa, menuju pusat kota lama.
Sebelum masuk kota, perahu dan rakit-rakit itu biasanya sandar di belakang langgar. "Kali masih bersih dan dalam," kata Mamad (56), penjaga langgar. Tubuhnya hitam tersengat matahari Jakarta. Ia memakai celana pendek, bertelanjang dada.
Langgar yang dibangun tahun 1833 atau 1249 Hijriah ini ada di tepi Kali Angke. Luas lantai dasarnya 8 meter x 24 meter. Lantai atas digunakan sebagai masjid. Sebagian lantai bawah, dulu, digunakan sebagai penginapan para pedagang yang mondar-mandir dengan perahu dan rakit. Sebagian lagi dijadikan tempat tinggal pengurus masjid.
Kini, seluruh lantai bawah digunakan untuk toko perangkat shalat, termasuk tasbih, buku-buku agama, serta minyak wangi khas Timur Tengah dan India. Ada minyak misik, minyak buhur, sampai minyak ular.
Langgar ini memiliki unsur arsitektur Eropa klasik, seperti tampak pada tiang-tiangnya, unsur China pada penyangga balok-balok kayunya, dan Jawa pada denah dasarnya. Menurut Adolf Heuken SJ dalam bukunya, Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2003), langgar didirikan di salah satu tanah wakaf Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi. Ahmad Assegaff (52) menambahkan, langgar didirikan Abu Bakar, pria asal Yaman. "Saya adalah anak Alwi bin (anaknya) Abdurrahman, bin Segaff, bin Husain, bin Abu Bakar," tuturnya.
Dulu, menurut cerita yang diwariskan para pendahulu Assegaff, ada empat pesta tahunan nan semarak di langgar. Pertama pesta khitanan bagi anak yatim piatu. Pesta ini diselenggarakan sehabis Lebaran di bulan Sapar. Berikutnya pesta mauludan, disusul pesta mikrajan, dan pesta khatam Al Quran.
Ketika pesta tiba, warga sekitar—Arab, India, Jawa, Bali, China, Muslim dan nonMuslim— bersama-sama mengumpulkan bantuan untuk membiayai hajatan besar itu. "Anak-anak yang dikhitan rata-rata cuma 20-an, tetapi yang datang ke pesta jauh lebih banyak dan meriah," tutur Assegaff.
Berikutnya pesta mauludan. Inilah pestanya para pria. Tak heran bila pestanya pun sampai tengah malam. Di depan langgar di dirikan panggung yang dihias janur, bunga kertas khas Betawi, dan lampion di sana-sini.
"Minyak lampionnya minyak kelapa bercampur minyak tanah. Kaum lelakinya memakai sarung madraz—sarung kotak-kotak warna coklat cerah—berkopiah, dan baju koko putih. Alas kakinya terompah," tutur Assegaff mengenang.
Pesta berlangsung sehabis magrib. Penganan yang disuguhkan adalah kue pepe, pastel, dan apem. Minumannya teh tawar dan teh manis. Pesta didominasi lantunan kasidah barzanji, mengisahkan riwayat Nabi Muhammad SAW.
Dalam pesta mikrajan, giliran kaum perempuan yang pegang peran. Acara berlangsung pukul 09.00-12.00
"Mereka memakai kebaya encim-encim dan kerudung warna putih dengan bawahan kain batik Betawi," papar Assegaff. Pesta juga didominasi lantunan tadarusan. "Ceritanya tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, lalu ke Betlehem, sebelum naik ke langit ke tujuh," paparnya.
Sajian makan siangnya nasi ulam, tempe goreng, emping, sayur semur dengan ikan bandeng pesmol, bandeng acar kuning.
Terakhir adalah pesta khatam Al Quran anak-anak yang umumnya berlangsung dua jam. Setelah shalat isya, mereka salawatan atau kasidahan, lalu dilanjutkan tarawih. Setiap delapan rakaat, anak-anak berkasidahan. Berdoa untuk kedua orangtua, membaca fusul, lalu ditutup dengan tadarusan.
Hidangannya bubur gandum surba (havermut) bumbu gulai dengan tebaran daging kambing halus yang direbus. Makanan ringannya kurma, rambutan, nangka, duren, dan mangga. "Tergantung musim buahnya, tetapi anak-anak umumnya lebih suka nangka dan duren," ujar Assegaff. Minumannya kopi jahe campur susu.
Mengutip penjelasan para pendahulunya, ia mengatakan, di luar acara ritual, pesta diikuti orang non-Muslim juga. "Nah... nanti giliran pesta Pekcun dan Capgomeh-nya orang China, yang Muslim ganti ikutan pada berebut terima angpau. Pesta biasanya berlangsung di tepi Kali Angke. Yang Muslim biasanya lebih suka nonton dari lantai dua langgar karena bisa tiduran di langgar," tutur Assegaff.

Bersemi
Langgar Tinggi adalah salah satu tempat ibadah umat Islam yang masih tergolong tua di Jakarta. Masjid tertua di Pekojan sekaligus tertua di Jakarta adalah Masjid Al-Anshor (1648) di Jalan Pengukiran II.
Masjid tertua di Jakarta, tulis Heuken, beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia sekarang yang terletak di Jalan Kali Besar Barat dan Jalan Roa Malaka Utara, Jakarta Kota. Masjid kayu bergaya Jawa ini dibakar waktu Gubernur Jenderal JP Coen menghancurkan kota Jayakarta tahun 1619.
Setelah pemusnahan itu, VOC melarang adanya masjid dan kelenteng di dalam kota. Namun, hal itu tidak diindahkan orang Moor, orang Islam asal Hejaz dan Gujarat, India, yang dikenal sebagai orang keling. Sebelum tinggal di Pekojan, mereka tinggal di Banten. Merekalah yang pada tahun 1648 membangun masjid kedua di Jakarta, Masjid Al-Anshor.
Apa yang dilakukan orang Moor membangkitkan keberanian orang Arab, Banten, Makassar, China, dan orang Bali membangun masjid di sekitar Pekojan, lalu meluas ke kawasan Jakarta Barat. Tercatat Masjid Al-Mansur (1717) di Jalan Sawah Lio, Mesjid Luar Batang (1736) yang dibangun Sayid Husein bin Abubakar, Masjid Kampung Baru (1748) di Bandengan Selatan, dan Masjid Annawar (1760) di Jalan Pekojan nomor 71.
Berikutnya, Masjid Angke atau Masjid al-Anwar (1761) yang dibangun seorang kontraktor China untuk orang Muslim Bali, Masjid Tambora (1761), Masjid Krukut (1785), dan Masjid Kebon Jeruk (1786) yang dibangun kaum Muslim Tionghoa.
Di antara masjid tadi, ada dua masjid paling menarik, yaitu Masjid Angke dan Masjid Kebon Jeruk. Selain karena arsitekturnya berunsur Bali, Belanda, Jawa, dan Tionghoa, Masjid Angke bisa menjelaskan, mengapa orang Bali yang identik dengan Hindu menjadi Muslim.

Heuken menulis, orang Belanda menganggap kaum pribumi adalah orang-orang yang tinggal di tanah Jawa. Karena tinggal di tanah Jawa, mereka disebut orang Jawa. Jadi, orang pribumi itu orang Jawa. Orang Jawa itu Islam, artinya, tunduk pada peraturan hukum Islam.
Maka, orang Bali yang beragama Hindu pun harus tunduk pada hukum Islam.
Berbeda dengan orang-orang China yang masuk Islam kala itu. Mereka masuk Islam agar dianggap golongan pribumi. Karena pribumi, mereka bisa bebas dari pajak kucir rambut dan beban pajak lainnya yang hanya ditanggung orang China. Identitas Islam kemudian mereka perkuat dengan membangun masjid, antara lain Masjid Kebon Jeruk.
Dalam proses yang berlangsung secara damai, Islam yang menjadi identitas pengikat antara kaum perantau (China, Arab, dan Moor) dan etnis Nusantara yang ada di Jakarta melahirkan etnis baru, etnis Betawi.
Hingga kini, jejaknya melekat pada arsitektur dan ornamen masjid-masjid tua, pesta pernikahan, bahasa, cara mereka berkesenian, dan pesta pesta seperti yang berlangsung di Langgar Tinggi.

Oleh : WINDORO ADI, Kompas

Uitkijk, Menara Miring Kubu Batavia






Uitkijk, Menara Syahbandar yang miring tahun1867 (KITLV)








Uitkijk menjadi pengawas benteng Batavia pada masa penjajahan Belanda.            
Jika Italia memiliki menara miring Pisa di Roma, Indonesia juga memiliki menara miring Uitkijk di Jakarta. Lokasinya berada di Pasar Ikan, Jakarta Utara.
Uitkijk, begitu Menara Syahbandar yang miring itu disebut dalam bahasa Belanda, dibangun 1839. Bangunan ini untuk mengganti tiang bendera lama pada galangan kapal di sebuah kawasan yang kini bernama Jalan Pakin.
Bicara soal Menara Syahbandar, maka tidak bisa lepas dari Bastian Culemborg. Bastian atau kubu pertahanan ini dibangun jauh lebih dulu, yaitu tahun 1645 dan merupakan bagian dari tembok Kota Batavia. Culemborg tak lain nama kota kelahiran Gubenrur Jenderal Van Diemen (1593-1645).
Kubu pertahanan ini berfungsi sebagai pengawas mulut pelabuhan. Dalam kubu inilah Uitkijk kemudian dibangun.  Culemborg dibangun menghadap ke Kubu Parel (Pantai Mutiara) yang merupakan satu kubu dari Kastil Batavia.
Dari Uitkijk, kita masih dapat melihat atap genteng sisa Bastian Culemborg, kemudian bekas pondasi Vierkantburg, yaitu jalan protokol untu para tamu berpangkat tinggi juga terlihat.
Bekas Stadsherberg, penginapan, dan Kleine Boom, yaitu bangunan pabean, juga bisa terlihat. Termasuk tempat wisata di sekitar tahun 1950, Aquarium atau yang sekarang disebut Kampung Aquarium.
Di sebelah barat laut dari menara terdapat sekumpulan bangunan bekas gudang. Salah satunya adalah gedung bekas gudang dari tahun 1652 yang kini menjadi Museum Bahari.
Tembok Museum ini di masa lampau adalah batas tembok kota sebelah barat. Tembok ini memanjang ke gudang-gudang di belakang museum. Tapi, sisa tembok di belakang museum sudah bisa dikatakan sirna (lenyap).
Bangunan kayu bekas gudang di belakang museum juga terlantar, terendam air, sementara bangunan bekas gudang sezaman dan setipe dengan museum bahari menanti roboh.


http://metro.vivanews.com/news/read/122396-uitkijk__menara_miring_kubu_batavia 

 
 
 
 
Copyright © Situs Betawi