Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Lenong Preman

Kamis, 21 Januari 2010

Berlainan dengan Lenong Dines yang biasa membawakan cerita-cerita kerajaan dan sebagainya, cerita-cerita  kerajaan dan sebagainya, cerita-cerita yang disajikan dalam lenong preman  berkisar disekitar kehidupan nyata sehari-hari yang dibawakan Lenong preman berkisar disekitar kehidupan nyata sehari-hari, yang dibawakan Lenong Preman yang mengisahkan jagoan-jagoan, tuan tanah, drama rumah tangga dan lain-lain sebagainya. Seperti pertunjukan lenong jenis lain, Lenong Preman dipergelarkan dengan menggunakan panggung yang tingginya kurang lebih 1 meter. Sudah barang tentu dengan jalan cerita, ada yang melukiskan panorama sebuah kota, ada yang menggambarkan rumah orang kaya, ada pula lukisan rumah penduduk yang sederhana taman, hutan dan sebagainya. Bahasa yang dipergunakan adalah dialek Betawi, sehingga sangat komunikatif dan akrab dengan penontonnya. Bagi yang memiliki keterampilan bersifat lidah mudah digunakan untuk melontarkan ungkapan-ungkapan humoristis. Sesuai dengan cerita yang dibawakan, pakaian pentasnya pun biasa digunakan pakaian sehari-hari sesuai dengan jaman menurut cerita. Jagoan-jagoan digambarkan dengan pakaian berbentuk celana dan baju potongan "koko" dan "pangsi", kaos oblong, ikat kepala yang menurut istilah setempat disebut "setangan". Lenong preman tersebar diberbagai daerah di wilayah budaya Betawi, seperti dibeberapa tempat di wilayah DKI Jakarta, dibeberapa tempat di wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten tangerang. beberapa rombongan lenong preman antara lain lenong preman, "Gaya baru", di Gunung Sindur, milik Liem Kim Song, "Setia kawan" di teluk Gong milik Nio Hok san, "Tiga Saudara" di Mauk, Tangerang, milik Pak Ayon, "Sinar Subur" di Bojongsari, milik Asmin."

referensi :Dinas Kebudayaan Dan permuseuman propinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003
 sumber :Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan

Lenong Denes

Lenong yang menyajikan cerita-cerita kerajaan seperti, indra Bangsawan, Danur Wulan dan sebagainya, menurut istilah setempat disebut Lenong Denes.Mungkin sebutan itu disebabkan karena yang dikasihkan adalah orang-orang atau tokoh-tokoh yang berkedudukan tinggi, orang-orang "dines", berlainan dengan orang kebanyakan, "orang preman". Sesuai dengan jalan cerita yang mengisahkan lingkungan bangsawan, maka pakaian dan perlengkapannya pun sudah barang tentu di sesuaikan dengan kebutuhan itu. Lain dari pada itu, bahasa yang digunakan dalam pentaspun, bukan bahasa Betawi sehari-hari, melainkan bahasa "Melayu Tinggi", dengan kata-kata ; "hamba", "kakanda", "adinda", "beliau", "daulat tuanku", "syahdan", berdatang sembah dan sebagainya. Bahasa demikian dewasa ini sudah sedikit sekali yang dapat menghayati, termasuk para seniman lenong sendiri. Oleh karenanya penggunaanya tampak kaku, sulit untuk dapat melahirkan humor spontan. Oleh karena itu pula makin menyusut peminatnya.Beberapa rombongan Lenong Dines dewasa ini antara lain ; Lenong Dines pimpinan rais di cakung, pimpinan Samad Modo di Pekayon, pimpinan Tohir di Ceger dan pimpinan Mis bulet di Babelan. Mungkin karena golongan keturunan Cina yang secara  ekonomis umumnya lebih kuat, lebih tajam penglihatannya terhadap segi-segi komersial, kini tidak ada Lenong Dines yang dimiliki oleh golongan ini. Lenong Dines biasa bermain diatas panggung, berukuran lebih 5 x 7 meter.Tempat seluas itu dibagi dua, sebagian untuk tempat pemain berhias, ganti pakaian, duduk-duduk menunggu saat untuk tampil. Sebagian lagi digunakan sebagai pentas. Alat musik ditata panggung, sebelah kanan dan sebelah kiri pentas. Penggunaan dekor adalah untuk menyatakan susunan dalam adegan-adegan. Tetapi pada kenyataannya, penggunaannya sering tidak tepat, karena terbtasnya persediannya dekor atau kadang-kadang karena kurang cermatnya pengatur dekor itu sendiri dalam menyesuaikan situasi, ruang dan waktu. Misalnya menurut cerita sang puteri sedang bercengkrama di tmansari, disertai dayang-dayangnya, ternyata dekornya menggambarkan kota metropolitan dan gedung-gedung tinggi, mobil sedan berseliweran dijalan. Pakaian pentas sudah barang sedapat mungkin disesuaikan dengan lakon. Membawa cerita "Pho Sio Litan", yang menceritakan suka derita seorang putera raja Cina, wanitanya memakai celana longgar yang ujung bawahnya diikatkan, baju kurung bersulam, rambutnya disanggul diatas tengkuk dan sebagainya. Pria berbaju "koko" berwarna menyala,cekana longgar dari "sutera" dan sebagainya. Perkelahian dalam pentas digambarkan dengan gerak silat yang tampak seperti perkelahian dalam pentas digambarkan dengan gerak silat yang tampak seperti perkelahian sungguh-sungguh, ada juga menggunakan pedang, bermain anggar, disertai gerak-gerak akrobatik yang mengesankan. Sebelum pertunjukan dimulai, biasa diselenggarakam upacara "ukup" dengan disediakan sesajen serta pembakaran kemenyan atau "hioh".



referensi :Dinas Kebudayaan Dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003
 sumber : Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan

Lenong


Lenong teater rakyat khas masyarakat Betawi yang sudah dikenal sejak tahun 1920-an.
Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.


Sejarah
Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an.
Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh.
Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.
Setelah sempat mengalami masa sulit, pada tahun 1970-an kesenian lenong yang dimodifikasi mulai dipertunjukkan secara rutin di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggunakan unsur teater modern dalam plot dan tata panggungnya, lenong yang direvitalisasi tersebut menjadi berdurasi dua atau tiga jam dan tidak lagi semalam suntuk.
Selanjutnya, lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan melalui televisi, yaitu yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia mulai tahun 1970-an. Beberapa seniman lenong yang menjadi terkenal sejak saat itu misalnya adalah Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.


Jenis lenong 
Terdapat dua jenis lenong yaitu Lenong preman dan Lenong denes . 
Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti "dinas" atau "resmi"), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.
Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.
Pada perkembangannya, lenong preman lebih populer dan berkembang dibandingkan lenong denes.


Sumber :  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Cokek


Tari Cokek merupakan tarian yang berasal dari budaya Betawi Tempo Doloe. Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tanggerang ini diwarnai budaya etnik China. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.Konon kata cokek berarti penyanyi merangkap penari, yang biasa dipanggil untuk memeriahkan sesuatu hajatan atau perayaan. Kecuali menyemarakkan suasana pesta dengan nyanyian dan tarian, para cokek itu biasanya pula membantu para tamu dalam perjamuan, misalnya menuangkan minuman kedalam gelas, menambah nasi atau lauk pauk dan sebagainya dengan sikap yang luwes karena memang cukup terlatih untuk keperluan itu. Pada perkembangan kemudian, cokek diartikan sebagai tarian pergaulan yang di iringi orkes Gambang Kromong, dengan penari-penari wanita yang disebut "wayang cokek", dengan mendapat imbalan uang. Para tamu diberi kesempatan yang luas untuk ikut menari berpasangan dengan cokek-cokek itu. Orang Betawi menamakannya "ngibing cokek". Sebelum dan selama ngibing mereka disodori minuman keras, untuk menambah semangat menari, seperti misalnya tari Tayub di Jawa Tengah.Menurut beberapa keterangan, tari Cokek pada zaman dahulu dibina dan dikembangkan tuan-tuan tanah Cina yang kaya raya. Sampai sebelum Perang Dunia ke dua kelompok kesenian ini dimiliki oleh "cukong-cukong" golongan Cina peranakan. Cukong-cukong inilah yang membiayai penghidupan para seniman Gambang Kromong dan para penari Cokek. Bahkan ada pula yang menyediakan perumahan tempat tinggal khusus bagi mereka. Dewasa ini sudah tidak ada lagi yang secara tetap menjamin kehidupan dan penghasilan mereka.Sebagai tarian pembukaan pada tari Cokek ialah "wawayangan", Para penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu mereka mengajak menari kepada yang hadir dengan mengalungkan selendang. Penyerahan selendang biasanya dilakukan kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia mengibing, maka mulailah mereka menari secara berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Dalam beberapa lagu ada pula pasangan penari itu yang saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup luas, atau pasangan yang menari tidak terlalu banyak, kadang-kadang ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas. Setelah selesai "ngibing" para pengibing pria memberikan imbalan beberapa uang sekedarnya kepada penari cokek yang melayaninya.Pakaian "wayang cokek" pada masa-masa yang belum lama berselang berbentuk khas, terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutra berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, semuanya polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah biasanya diberi pula hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah. Rambutnya tersisir rapi licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian di sanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Disamping itu diberi pula hiasan benang wol dikepang atau dirajut yang menurut istilah setempat disebut "burung hong".Pada masa lalu penanggap tari cokek terbatas pada masyarakat Betawi keturunan Cina, sehingga disebut "hiburan babah". Dewasa ini digemari pula oleh masyarakat lainnya, untuk memeriahkan berbagai pesta, terutama pesta perkawinan. Seperti halnya orkes gambang kromong, tari Cokek termasuk kesenian yang paling luas penyebarannya dalam wilayah budaya Betawi. Grup gambang kromong dianggap tidak lengkap tanpa "wayang Cokek"Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, disamping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek.



Referensi : Dinas Kebudayaan Dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003.
Sumber : Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Ondel-ondel

Minggu, 20 Desember 2009

Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah budaya Betawi.

Hal ini terungkap dari tulisan W. Scot, seorang pedagang Inggris yang pada awal abad ke tujuh belas berada di Banten, yang dikutip oleh W. Fruin Mees dalam bukunya yang berjudul Geschiedenis Van Java, jilid II yanh intinya kurang lebih sebagai berikut : 

"Pada tahun 1605, iring-iringan Pangeran Jayakarta Wijayakrama untuk ikut merayakan pada khitanan pangeran Abdul Mafakhir yang tiga tahun sebelumnya dalam usia 7 tahun telah dinobatkan sebagai Sultan Banten menggantikan ayahandanya, Sultan Muhammad, yang wafatnya di Palembang, antara lain membawa boneka berbentuk raksasa ("een reus raksasa itu adlah apa yang dewasa ini kita kenal sebagai ondel-ondel , yang pada zaman dahuli lazim dianggap perwujudan Danyang Desa, penolak mata petaka.

Walaupun pertunjukan rakyat semacam itu terdapat pula di beberapa tempat lain seperti di Priangan dikenal dengan sebutan Badawang, di Cirebon diswbut Gendruwo, di Banyumas disebut Barongan Buncis dan si Bali disebut Barong landung, tetapi ondel-ondel memiliki karakterisrik yang khas. Sebagai catatan, diharapkan dalam membuat disainnya agar dapat menunjukkan ekspresi garang tetapi menyenangkan untuk dilihat, tidak mengesankan makhluk besar berwajah bodoh. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai membawakan lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan "bekakak" dalam upacara "potong bekakak" digunung gamping disebelah selatan Kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan Sapar setiap tahun.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5 m, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada didalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk, "duk" kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot.

Ondel-ondel yang menggambarkan lski-lski muksnys bercat merah, yang menggambarkan perempuan bermuka putih atau kuning. Ondel-ondel biasanya digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, seperti mengarak pengantin sunat dan sebagainya. Lazimnya dibawa sepasang saja, laki dan perempuan. Tetapi dewasa ini tergantung dari permintaan yang empunya hajat. Bahkan dalam perayaan-parayaan umum seperti ulang tahun hari jadi Kota Jakarta, biasa pula dibawa beberapa pasang, sehingga merupakan arak-arakan tersendiri yang cukup meriah.

Musik pengiring Ondel-ondel tidak tertentu, tergantung masing-masing rombongan. Ada yang diiringi Tanjidor, seperti rombongan Ondel-ondel pimpinan Gejen, kampung Setu. Ada yang diiringi gendang pencak Betawi seperti rombongan "Beringin Sakti: pimpinan Duloh (Almarhum), sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Ada pula yang diiringi Bende, "Kemes", Ningnong dan Rebana Ketimpring, seperti rombongan Ondel-ondel pimpinan Lamoh, Kalideres.

Disamping untuk memeriahkan arak-arakan, pada masa yang lalu biasa pula mengadakan pertunjukan keliling, "Ngamen". Terutama pada perayaan-perayaan Tahun Baru, baik Masehi maupun Imlek. Sasaran pada perayaan Tahun Baru MAsehi daerah Menteng, yang banyak dihuni orang-orang Kristen. Pendukung utama kesenian ondel-ondel adalah petani termasuk "abangan", khususnya yang terdapat didaerah pinggiran kota Jakarta dan sekitarnya.

Di beberapa tempat seperti di Cireundue, Ciputat, serinh pula digunakan dalam pesta-pesta "baritan", semacam upacara "bersih desa", yang biasa diselenggarakan setelah panen raya, dahulu antara juli - agustus.  Pembuatan Ondel-ondel dilakukan secara tertib. Baik waktu membentuk kedoknya, demikian pula pada waktu menganyam badannya dengan bahan bambu.

Sebelum pekerjaan dimulai, biasanya disedikan sesajen yang antara lain berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam dan sebagainya, disamping sudah pasti dibakari kemenyan. Demikian pula Ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut. Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantiasa diadakan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah satu seorang yang dituakan. Menutut istilah setempat upacara demikian itu disebut "ukup" atau "ngukup".



Referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

Sumber :DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA


Lenong

Hasil perkembangan teaterisasi teater tutur gambang rancag menjadi teater peran adalah terbentuknya lenong, yang secara visual memperlihatkan unsur-unsur luar, terutama unsur Cina. Hal ini disebabkan sebagaimana orkes Gambang kromong pada masa awal pertumbuhannya, dibina dan dikembangkan oleh masyarakat keturunan Cina. Lenong biasa dilengkapi dengan dekor5 yang disesuaikan pada babak-babak cerita. Pertunjukannya biasanya dimulai dengan permainan musik Gambang Kromong, yang membawakan lagu-lagu baku sebagai berikut : Dimulai dengan tetalu dimainkan musik lagu-lagu berirama Mars (istilah setempat Mares), secara instrumental, berfungsi sebagai musik ilustrasi untuk memanggil penonton supaya pada datrang. Dalam pembukaan pertunjukkan, dimainkan acara Hormat Selamat dengan membawakan lagu Angkat Selamet. Sementara dalam acara ekstra biasanya dibawakan lagu-lagu khas Betawi seperti Jali-jali, Persi, Stambul, Cente Manis, Seret Balok, renggong Manis dan lain-lain. Lakon-lakon pada masa awal pertumbuhannya berkisar di sekitar cerita kerajaan, karena itu timbul ungkapan "kaya raja lenong", untuk menunjukkan orang yang bergaya feodal. Perlengkapan dan pakaiannya, sesuai dengan sifat cerita yang disajikan, tergolong mewah, gemerlapan. Dengan demikian dapat diperkirakan, bahwa pemilik Lenong adalah orkes gambang Kromong sebagai musik pengiringnya. Berdasarkan cara pertunjukan, cerita yang dibawakan, masyarakat pendukungnya dan sebagainya, terdapat beberapa sebutan terhadap teater yang tergolong Lenong itu, yakni : Lenong Dines, Wayang Senggol, Wayang Sumedar, Lenong Preman dan Wayang si Ronda.



Referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003


Sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN



Lenong Denes


Lenong yang menyajikan cerita-cerita kerajaan seperti, indra Bangsawan, Danur Wulan dan sebagainya, menurut istilah setempat disebut Lenong Denes.


Mungkin sebutan itu disebabkan karena yang dikasihkan adalah orang-orang atau tokoh-tokoh yang berkedudukan tinggi, orang-orang "dines", berlainan dengan orang kebanyakan, "orang preman". Sesuai dengan jalan cerita yang mengisahkan lingkungan bangsawan, maka pakaian dan perlengkapannya pun sudah barang tentu di sesuaikan dengan kebutuhan itu. Lain dari pada itu, bahasa yang digunakan dalam pentaspun, bukan bahasa Betawi sehari-hari, melainkan bahasa "Melayu Tinggi", dengan kata-kata ; "hamba", "kakanda", "adinda", "beliau", "daulat tuanku", "syahdan", berdatang sembah dan sebagainya. Bahasa demikian dewasa ini sudah sedikit sekali yang dapat menghayati, termasuk para seniman lenong sendiri. Oleh karenanya penggunaanya tampak kaku, sulit untuk dapat melahirkan humor spontan. Oleh karena itu pula makin menyusut peminatnya.

Beberapa rombongan Lenong Dines dewasa ini antara lain ; Lenong Dines pimpinan rais di cakung, pimpinan Samad Modo di Pekayon, pimpinan Tohir di Ceger dan pimpinan Mis bulet di Babelan. Mungkin karena golongan keturunan Cina yang secara  ekonomis umumnya lebih kuat, lebih tajam penglihatannya terhadap segi-segi komersial, kini tidak ada Lenong Dines yang dimiliki oleh golongan ini. Lenong Dines biasa bermain diatas panggung, berukuran lebih 5 x 7 meter.Tempat seluas itu dibagi dua, sebagian untuk tempat pemain berhias, ganti pakaian, duduk-duduk menunggu saat untuk tampil. Sebagian lagi digunakan sebagai pentas. Alat musik ditata panggung, sebelah kanan dan sebelah kiri pentas. Penggunaan dekor adalah untuk menyatakan susunan dalam adegan-adegan. Tetapi pada kenyataannya, penggunaannya sering tidak tepat, karena terbtasnya persediannya dekor atau kadang-kadang karena kurang cermatnya pengatur dekor itu sendiri dalam menyesuaikan situasi, ruang dan waktu. Misalnya menurut cerita sang puteri sedang bercengkrama di tmansari, disertai dayang-dayangnya, ternyata dekornya menggambarkan kota metropolitan dan gedung-gedung tinggi, mobil sedan berseliweran dijalan. Pakaian pentas sudah barang sedapat mungkin disesuaikan dengan lakon. Membawa cerita "Pho Sio Litan", yang menceritakan suka derita seorang putera raja Cina, wanitanya memakai celana longgar yang ujung bawahnya diikatkan, baju kurung bersulam, rambutnya disanggul diatas tengkuk dan sebagainya. Pria berbaju "koko" berwarna menyala,cekana longgar dari "sutera" dan sebagainya. Perkelahian dalam pentas digambarkan dengan gerak silat yang tampak seperti perkelahian dalam pentas digambarkan dengan gerak silat yang tampak seperti perkelahian sungguh-sungguh, ada juga menggunakan pedang, bermain anggar, disertai gerak-gerak akrobatik yang mengesankan. Sebelum pertunjukan dimulai, biasa diselenggarakam upacara "ukup" dengan disediakan sesajen serta pembakaran kemenyan atau "hioh".



Referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

Sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

Ubrug

Jenis ini termasuk teater peran yang sudah punah, beberapa tokohnya yang masih hidup antara lain Ma Kinang, yang sekitar tahun dua puluhan berpindah profesi dari "ronggeng" Ubrug menjadi "Ronggeng Topeng".

Demikian juga Ma Minah di Cijantung. Ubrug Betawi merupakan unsur lain dari Ubrug Banten yang terdapat di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Pandeglang. Selain bahasa yang berbeda, pada pergelaran Ubrug Betawi biasa terdapat pertunjukan sulap. Ada sulapan yang berdasarkan ketrampilan, ada pula sulapan yang konon menggunakan ilmu gaib, seperti "sulap gedebus". lakon-Iakon yang biasa dibawakan Ubrug berbentuk lakon-Iakon pendek yang disebut "banyolan". Sesuai dengan sebutannya, "banyolan" : mengutamakan tawa penonton. Jalur cerita tidak begitu diperhitungkan. namun demikian humor-humor yang dibawakan tidak sedikit yang bersifat kritik sosial, kadang-kadang mengandung sindiran terhadap seseorang atau sekelompok orang yang oleh masyarakat dianggap menyimpang dari adat kebiasaan yang berlaku. Disamping mengadakan pergelaran untuk memeriahkan berbagai hajatan, seperti khitanan, perkawinan dan sebagainya, lazim pula rombonganrombongan Ubrug Betawi mengadakan pertunjukan keliling. Pertunjukkan keliling tidak hanya pada hari-hari raya umum seperti tahun bam dan sebagainya, melainkan juga keliling dari tempat yang satu ketempat lain walaupun tidak ada panggilan. Di tempat-tempat yang banyak didatangi orang, seperti di pasar-pasar, bahkan di halaman stasiun kereta api, tanpa banyak prosedur yang perlu ditempuh, sewaktu-waktu rombongan ubrug tampil mengadakan pertunjukan, uang diperoleh dengan cara "nyawer" yang dilakukan oleh salah seorang "panjak", biasanya "rombongannya", meminta langsung dari para penonton. Alat musik yang biasa mengiringi pagelaran ubrug adalah sebuah gendang, sebuah kulanter, rebana biang dan terompet. Rombongan ubrug yang terkenal pada tahun duapuluhan antara lain yang dipimpin oleh Kadul di Gudang air, Pasar Rebo.


Referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN
 
 



Samrah


Samrah merupakan kesenian yang komplit. Didalamnya tergabung jenisjenis kesenian : Musik, pantun, tari dan lakon.

Istilah samrah mungkin berasal dari bahasa Arab "Samarokh" yang berarti "kumpul". Penamaan ini sesuai dengan kenyataan pada waktu yang lampau samrah ditampilkan pada saat-saat orang berkumpul setelah aeara "Maulid" dan "malam Angkat" dalam rangkaian upaeara pernikahan menurut tradisi Betawi, tanpa disediakan panggung cukup disediakan tempat tertentu saja. Pertunjukan musik dan tari Samrah lazim dilanjutkan dengan membawa cerita. Kalau pertunjukan musik dan tarinya diselenggarakan tanpa panggung, teaternya pun dengan sendirinya tanpa panggung, yakni dengan pentas berbentuk arena, sesuai dengan keadaan tempat. Komando sebagai tanda dimulainya pertunjukan, biasanya diueapkan oleh tuan rumah yang mempunyai hajat : "Ayo dong meja-kursi digeserin, piring mangkok dibenahin, Nyok deh kite nyerbu" maka diatas tikar yang terbentang, disitulah pertunjukan dilakukan. Tampak bahwa Samrah
tampil dalam pesta perkawinan, bukan pada upaeara lainnya. Mereka main karena diundang, tanpa dibayar, pemain dan hadirin hanya bertujuan menari  hiburan belaka. Tidak mengherankan bilamana kostum para pemain Samrah yang asH berupa jas, kain plakat dan peei, suatu seragam yang biasa dipakai oleh kaum pria Betawi menghadiri upaeara pernikahan. Teater Samrah pada umumnya tidak menggunakan dekor, kadang-kadang ada yang melengkapinya dengan sebuah meja dan dua buah kursi. Cerita yang biasa dibawakan teater Samrah adalah dengan bahasa Melayu tinggi dengan banyak menggunakan kata-kata Melayu Riau seperti eneik, abang, tuan, gerangan, hamba dan fain-lain, walaupun diueapkan dalam, lafal melayu Betawi. Tonil Samrah ini sesudah perang dunia kedua popularitasnya dikalangan remaja makin berkurang. Peremajaannya mandeg. Hal ini mungkin karena lagu-agunya yang berbau "kuno" dengan iramanya yang lamban, atau karena musiknya sulit dimainkan, rata-rata bernada minor; atau karena tariannya yang berdasarkan gerakan silat seni bela diri yang masih belum meluas atau juga karena pantunnya yang jarang orang menghafalkannya luar kepala. Tokoh-tokoh samrah yang aktif dewasa ini antara lain Harun Rasyid, M. Zein, Arifin, Ali Sabeni dan lain-lain, yang rata-rata berusia lima puluh tahun keatas. Seperti halnya Dermuluk penyebaran Samrah terbatas di daerah tengah kota. Sampai sebelum perang dunia kedua, Tonil Samrah dimainkan melulu oleh kaum pria saja, baik penarinya maupun peran wanitanya. Mungkin hal ini adalah karena masyarakat Betawi termasuk kelompok yang ketat menganut agama Islam, sehingga haram bagi wanita untuk menjadi anak panggung. Pergelaran toni! samrah pada masa lalu terdiri dari beberapa bagian : ada pembukaan berupa tarian, ada nyanyian, ada lawakan dan lakon. Dalam membawakan eerita, eiri khas Samrah terlihat dari penyampaian maksud yang berbentuk pantun yang dinyanyikan. Sama seperti "pakem" opera, karena pada dasarnya toni! samrah juga berasal dari teater rakyat Melayu Riau yakni Teater Dermuluk, tetapi dalam perkembangannya berubah bentuknya setelah muneul di Betawi menjadi Melayu Betawi. Karena berbau opera itulah, para pemain Samrah harus paham dan pandai berpantun dan bernyanyi.

referensi :DINAS KEBUDAYAAN DAN PERMUSEUMAN PROPINSI DKI JAKARTA, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

sumber :DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN


 
 
 
 
Copyright © Situs Betawi