Tampilkan postingan dengan label Kampung Tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampung Tua. Tampilkan semua postingan

Dari Prinsen Straat ke Prinsen Park

Sabtu, 13 Februari 2010


Prinsen Straat (sekarang Jalan Cengkeh) di tahun 1860-an dengan Gerbang Amsterdam di kejauhan.

PERNAH dengar nama Prinsen Park? Kini namanya menjadi Lokasari, Mangga Besar, Jakarta Barat. Prinsen Park tak ada hubungan dengan Prinsen Straat. Itu juga jika Anda sekalian pernah dengar ada nama jalan tersebut. Prinsen Straat, Prince Street, kini menjadi Jalan Cengkeh, Jakarta Barat. Jalan Cengkeh berada di lingkaran utama kawasan Kota Tua Jakarta.Dari Prinsen Straat, akan terlihat Amsterdam Poort (Amsterdam Gate) di kejauhan. Di tahun 1867, fotografer  Jacobus Anthonie Meesen mengabadikan Prinsen Straat dengan Gerbang Amsterdam di kejauhan. Ia mengambil gambar dari titik pertemuan Prinsen Straat, Pasar Pisang, dan Leeuwinnen Straat (kini Jalan Cengkeh, Jalan Kalibesar Timur 3, dan Jalan Kunir). 


Posisi Gerbang Amsterdam berhadap-hadapan dengan stadhuis atau balai kota yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta (MSJ).Pendatang dari Eropa yang mengunjungi Batavia melalui laut sebelum 1885 –  ketika Tanjungpriok selesai dibangun – akan berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa dan melintas di sepanjang sisi selatan Prinsen Straat. Mereka akan terus melaju ke arah selatan menuju Weltevreden. Di tahun 1860-an jalan ini merupakan salah satu jalanan sibuk dengan kegiatan bisnis dan perdagangan, khususnya di siang hari. Di malam hari kawasan ini sepi karena para pekerja yang kebanyakan orang Eropa memilih tinggal di “kota atas”, Weltevreden.Hingga abad 20, kawasan Prinsen Straat atau Jalan Cengkeh berisi berbagai kantor, gudang, dan bangunan bisnis milik bangsa Eropa.Gerbang Amsterdam, demikian ditulis Scott Merrllees dalam Batavia in The Nineteenth Century Photograhps, merupakan satu-satunya peninggalan dari Kastil Batavia yang dihancurkan  Daendels pada sekitar 1808-1809. Gerbang itu merupakan pintu masuk Kastil Batavia sisi selatan dan terletak di sisi utara dari stadhuis. Amsterdam Poort pertama kali dibangun pada abad 17. Sampai abad 19, gerbang ini terus mengalami perubahan. Misalnya, di zaman Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang berkuasa pada 1743-1750, gerbang itu berganti gaya menjadi Rococo.

Di abad 18 itu juga, sayap gerbang berbentuk melengkung yang dihubungkan dengan bangunan yang membentuk bagian benteng. Ketika Daendels menghancurkan kastil, hanya gerbang ini yang selamat. Pada 1840-an gerbang itu dibangun kembali dengan patung Mars dan Minerva yang dipasang di sisi kiri dan kanan gerbang bagaikan sepasang penjaga. Lain kisah dengan Prinsen Park yang adalah tempat hiburan beken pada masanya. Di lokasi yang kurang lebih seperti pasar mala mini, ada bioskop, restoran, tempat nonton komedi stamboel, dll.Sayangnya kemudian Prinsen Park dilebur menjadi kawasan Lokasari yang meskipun ingin mencoba mirip dengan Prinsen Park, tetap saja yang muncul adalah kesan hiburan “remang-remang”. Kumpulan kuliner di sana bisa dibilang oke tapi tempat hiburannya, apalagi di malam hari, sudah tak lagi bisa menampung anak-anak atau orang dewasa yang ingin menonton kesenian. Kesenian dalam arti yang sebenarnya, tentu saja. Bagaimanapun, tempat-tempat tadi layak jadi alternatif jalan-jalan murah di akhir pekan ini. Berharap saja udara sedikit bersahabat.


Sumber : 
Pradaningrum Mijarto
http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/01/23/14254437/dari.prinsen.straat.ke.prinsen.park.#

'Naar Boven' ke Tanahabang, Jangan Lupa Membatik


Tanah Abang dilihat dari dataran tinggi Weltevreden dengan Trem Elektrik milik Bataviasche Elektrische Tram Maatschappi.


LORD George Macartney, sempat mampir ke Batavia di sekitar akhir abad 18, tepatnya di tahun 1793. Ia bahkan sempat menikmati pesta yang luar biasa mewah, anggur Madera (Madeira) – anggur beken asal Portugis – pun tak henti dituang bagi duta pertama Inggris untuk China itu. Pergelaran wayang China dan atraksi kembang api yang bagaikan letusan gunung api menambah meriah suasana. Dan pastinya, yang tak terlewatkan, dansa dansi sampai pagi.

Demikian sepenggal kisah Lord Macartney di Batavia, dalam rangka menuju China. Rangkaian kegiatan di Batavia ditulis Macartney dalam sebuah jurnal. Jurnal itu ditulis ulang oleh Junus Nur Arif dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe. Ketika kapal Lion, kapal yang ditumpangi Macartney mendekat ke daratan, pejabat Belanda pun sibuk menyambut. Pesta hingga subuh itu digelar di rumah kediaman seorang anggota dewan Belanda, Wiegerman. Kediaman Wiegerman berada di luar Kota Batavia, di kawasan yang disebut udik, bernama Tebanang, De Nabang, atau Tanahabang. Dari Batavia ke Tenabang, orang biasa menyebut, naar boven.

Dalam beberapa referensi tentang sejarah Tanahabang, nama Tanahabang mulai muncul di abad 17. Diduga, nama itu berasal dari tentara Mataram yang datang menyerbu VOC di Batavia tahun 1628.  Di dataran berbukit bertanah merah dan berawa itulah pangkalan tentara Mataram. Kawasan ini di masa itu juga masih menjadi kebun teh, melati, kacang, sirih, jahe. Kawasan ini juga dialiri Kali Krukut. Di masa itu yang namanya Tanahabang meliputi hingga kawasan Weltevreden, Molenvliet West sampai Rijswijk.

Sebuah foto dari tahun 1875, koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean Studies)  atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, menunjukkan gardu penjagaan yang berbentuk seperti kotak lengkap dengan dua nama di pojok kiri dan kanan atas yaitu Tanahabang dan Rijswijk. Di masa itu, rumah gardu memang dibangun pada jarak-jarak tertentu.

Referensi lain menyebutkan, nama Tanahabang resmi digunakan setelah Jawatan Kereta Api membangun stasiun kereta api di tahun 1890. Stasiun itu kemudian diberi nama Tanahabang, bukan Tenabang (dari De Nabang, nama sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah itu) seperti yang selalau disebutkan warga kala itu.














Tanah Abang West (Jl Abdul Muis) di sisi kiri ada kanal, tahun 1860-an.



Kawasan luas itu memerlukan lalulintas penghubung, yaitu kanal. Satu nama yang tak bisa dilupakan dalam pembuatan kanal di Batavia adalah Kapitan China Phoa Bing Gam. Pada 1648 ia menggali terusan di Molenvliet sampai ke Kali Ciliwung di sisi timur, ke barat hingga ke ujung Kebon Sirih – kini got yang mengalir di sepanjang Jalan Tanah Abang Timur/Abdul Muis.

Tak hanya urusan kanal, Bing Ham juga mengupayakan perkebunan tebu dan pengolahan gula. Dari sinilah muncul pula pabrik arak. Dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, Bondan Kanumoyoso mencatat,  di Batavia ada dua perusahaan dagang milik Belanda yang memproduksi minuman beralkohol (arak), RF Van der Mark dengan pabrik minuman mengandung alkohol (Batavia Arak Maatschappij) dan Handels Vereeniging dengan pabrik Oost-Indie minuman beralkohol (Arak Fabriek Aparak).

Kisah tentang Tanahabang pastinya lumayan bertumpuk. Ada satu kisah tentang sebuah gedung yang semula dimiliki warga Prancis dan kemudian beberapa kali berpindah tangan. Tahun 1942, bangunan dengan halaman luas itu dibeli Dr Karel Christian Cruq dari tangan seorang konsul Turki. Di masa revolusi, rumah itu dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada 1947, rumah itu dibeli seorang pengusaha bernama Lie Soin Phin yang kemudian dikontrakkan ke Departemen Sosial. Tahun 1952 Depsos justru membelinya dan bulan Oktober 1975 diserahkan ke Pemda DKI untuk dijadikan museum. Museum yang di bagian depannya masih saja dihiasi pedangang kaki lima, dan berada di kawasan kumuh di Jalan Petamburan, itu tak lain adalah Museum Tekstil.

Di sini, pengunjung bisa melihat koleksi alat tenun nonmesin yang dibuat tahun 1927 dan gedogan (alat tenun tradisional) serta beragam koleksi kain batik, ikat, kain tradisional, lukisan tangan, dan prada. Selain itu tersimpan pula Bendera Kraton asal Cirebon buatan tahun 1776 yang merupakan panji kebesaran Kesultanan Cirebon dan kain adat asal Bali dari abad ke -19. Kain ini disebut juga Geringsing Wayang Kebo, merupakan kain tenun yang pembuatannya paling rumit karena menggunakan teknik ikat ganda. Teknik ini adalah teknik langka yang hanya ada di sedikit negara.

Sri Susuhunan Pakubuwono XII menyumbangkan kain motif batik bernama Tumurun Srinarendra (kelahiran raja). Dibuat oleh almarhum Hardjonegoro untuk dikenakan sendiri pada perayaan ulangtahun Sunan Solo. Tak ketinggalan koleksi baju perang Irian Jaya berbahan rotan dan serat alam. Teknik pembuatan dianyam. Baju ini digunakan sebagai busana suku di Papua untuk melindungi dada dari serangan benda tajam. Di museum ini pengunjung juga bisa belajar membatik.


Sumber : Pradaningrum Mijarto ( Warta Kota )

Legenda Kampung Gedong

Senin, 01 Februari 2010







Landhuis Goeneveld di Tanjung Gedong tahun 1880 (KITLV)








Trah Van Riemsdjik di Groeneveld

Lama-lama gedung itu dikenal dengan sebutan Gedong.
Kondisi bangunan itu tampak sangat memprihatinkan. Selain hanya berupa puing reruntuhan, di dalam reruntuhan yang sudah tidak beratap ini kini dipenuhi puluhan pohon pisang dan tanaman merambat lainnya. Lumut pun  telah menutupi sebagian besar dinding bata reruntuhan setinggi tujuh meter tersebut. Letaknya yang diapit bangunan asrama berlantai tiga membuat reruntuhan bangunan ini semakin tidak "terlihat". Kondisinya semakin diperparah dengan keberadaan tempat sampah besar serta kandang ayam yang terletak di halaman reruntuhan. Sejak terjadi kebakaran besar yang menimpa bangunan ini pada tahun 1985, kondisi bangunan yang terletak dalam area Asrama Polri di jalan Gedong persis tusuk sate Jalan Condet Raya, kampung Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini memang sangat memprihatinkan. Padahal, dari reruntuhan bangunan ini nama kampung Gedong bermula.Mulanya, kawasan yang berada di dekat perempatan pasar Rebo, Jakarta Timur ini bernama Tanjung Timur. Tapi karena keberadaan bangunan inilah, masyarakat Betawi dahulu lebih akrab menyebut kawasan ini dengan nama Kampung Gedong. "Jadi sejak tahun 1800an, warga Batavia lebih mengenal Tanjung Timur dengan nama kampung gedong. Sebab ada satu bangunan besar(gedung, red) milik tuan tanah yang berdiri di tengah-tengah tanah pertanian dan perkebunan milik tuan tanah Belanda yang mendominasi wilayah ini" ujar sesepuh kampung Gedong, Wak Djejeh, 70 tahun kepada VIVAnews, pekan lalu.Meski hanya bangunan tingkat dua, namun karena letaknya yang berada di dataran tinggi membuat bangunan tersebut tampak dari kejauhan seperti gedung megah yang tinggi. Ditambah kondisi kawasan sekitar yang masih rimbun ditumbuhi berbagai pepohonan, membuat keberadaan bangunan tinggi satu-satunya tersebut menonjol di wilayah tersebut. Sebelum terbakar, Wak Djejeh menuturkan bahwa bangunan ini merupakan gedung yang sangat megah. Bangunan bergaya Eropa klasik yang memiliki luas 100 meter ini diapit oleh dua menara besar tiga lantai. Lantai dasar menara digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk pemberontak.Bangunan utama berlantai dua memiliki empat ruang kamar besar di tiap lantainya. Hingga tahun 1980an, halaman sekitar gedung masih dipenuhi pohon besar seperti pohon Asem dan Gandaria. Di halaman depan gedung, terdapat meja batu yang biasa dipergunakan sebagai tempat menanam kepala kerbau untuk keperluan sesajen pada masa itu. Sejarah mencatat, kawasan kampung Gedong awalnya bernama tanah partikelir Tanjoeng Oost (Tanjung Timur). Pemilik kawasan pertama adalah tuan tanah bernama Pieter van de Velde asal Amersfoort, Belanda. Di situlah pada tahun 1750 ia membangun villa yang digunakan sebagai tempat perisitirahatan (Landhuis). Memang keberadaannya yang jauh dari pusat kota Batavia, membuat kawasan Tanjung Timur(sekarang kampung Gedong) dan sekitarnya menjadi tempat favorit untuk membangun gedung peristirahatan serta mengelola tanah pertanian. Gedung ini kemudian diberi nama Goeneveld, yang berarti lapangan hijau. Nama ini disesuaikan dengan pemandangan sekelilingnya yang masih hijau. Pada masa itu, awalnya belum ada perkampunan pribumi. Wilayah ini hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beragam pohon besar. Kawasan Tanjung Timur dan gedung ini tahun demi tahun mengalami pergantian kepemilikan. Tapi Tanjung Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat saat dikelola oleh Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Usahanya pun dilanjutkan oleh menantunya, Tjalling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara yang menikah dengan putri Daniel Cornelius, Dina Cornelia.Ament melanjutkan usaha mertuanya dengan meningkatkan usaha pertanian dan peternakan. Pada pertengahan abad ke-19, di kawasan TanjungTimur dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi.Produksi susunya sangat terkenal di Batavia. Sampai tahun 1942 Groeneveld dihuni keturunan Van Riemsdjik. Kawasan ini Tanjung Timur pun lambat laun mulai dihuni oleh sejumlah pribumi.Pasca kemerdekaan, bangunan ini berubah fungsi menjadi asrama dari pegawai hotel hingga asrama polisi. "Petugas polisi lalu lintas mulai menempati bangunan ini pada tahun 1963" ujar Wak Djejeh yang mengaku pernah menghuni bangunan ini. Seiring pesatnya pembangunan, kawasan ini lambat laun mulai dipadati oleh perumahan warga.Saat kebakaran yang terjadi pada tahun 1985, gedung ini sedang digunakan sebagai asrama polisi. Usai peristiwa kebakaran, kepemilikan gedung inipun diambil alih oleh Pemda. Sedangkan area sekitar gedung, dibangun asrama polisi. "Walau sudah diambil alih oleh Pemda, tapi tidak pernah ada perawatan dari Pemda" ujar Djejeh.Saat ini kampung Gedong telah menjadi kelurahan dalam Kecamatan Pasar Rebo. Sebelah utara kampung Gedong berbatasan dengan kelurahan Tengah, Kramat Jati. Sebelah Selatan berbatasan dengan sungai Ciliwung Tanjung Barat.Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Rambutan, Ciracas dan sebelah selatan berbatasan dengan Cijantung. Karena lokasinya yang strategis, membuat kawasan ini dipadati gedung-gedung perkantoran sehingga warga asli banyak yang telah pindah tempat tinggal di selatan Jakarta."Warga asli sini udah banyak yang pindah entah kemana" ujar Wak Djejeh.


Sumber : Maryadie, Zaky Al-Yamani



Legenda Jatinegara

Sabtu, 16 Januari 2010

Pelarian Pangeran Jayakarta di Hutan Jati.



Jatinegara tahun 1955 (UPT Kota Tua)




Setiap hari, hiruk pikuk pembeli dan lalu lalang kendaraan mewarnai jalan raya Jatinegara yang berada di timur Jakarta ini. Aktivitas perdaganganpun membuat Jatinegara yang akrab disebut Mester ini terlihat lebih hidup.Ini tidak terlepas dari sejarah Jatinegara yang sejak zaman Belanda memang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan di Batavia. Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa daerah ini sebelumnya merupakan tempat pelarian pangeran Jayakarta setelah kota  Jayakarta direbut oleh tentara Belanda. Awalnya, Jatinegara merupakan hutan belukar yang banyak ditumbuhi pohon jati. Di tempat inilah Pangeran Jayakarta melarikan diri dari kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah dikalahkan oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen. Lalu Pangeran Jayakarta membuka hutan untuk dijadikan sebagai tempat pemerintahan dalam pengasingan dengan dibantu pengikutnya yang tersisa. Pada saat itu, daerah ini memang belum menjadi bagian dari kota Jayakarta.Mengenai penggunaan nama Jatinegara di wilayah ini terdapat perbedaan pendapat. Satu pendapat mengatakan bahwa nama Jatinegara diberikan oleh Pangeran Jayakarta saat mengungsi di daerah ini. Nama JHatinegara berarti negara yang sejati. Dengan nama ini, Pangeran jayakarta berusaha membuktikan bahwa pemerintahannya masih berjalan walaupun kota Jayakarta telah direbut oleh Belanda dan diubah menjadi nama Batavia. Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa nama Jatinegara diambil karena pada zaman Belanda, wilayah ini merupakan hutan jati yang sangat  rimbun. “Dinamakan Jatinegara karena dulu menurut kakek saya di sini ini penuh pohon Jati, kemudian dibuka oleh Mester (Cornelis)” ujar seorang warga Jatinegara, Sunarya, 50 tahun.Walau perlawanan sering dilakukan, namun pasukan tentara Belanda yang semakin kuat membuat Pangeran Jayakarta tidak memiliki kesempatan untuk merebut kembali kota Jayakarta. “Dari Jatinegara, pangeran dan pangikutnya bergerilya membuat Batavia tidak pernah aman selama 80 tahun” tulis Sejarawan Betawi, Alwi Shahab. Pangeran Jayakarta pun menetap di daerah ini dalam waktu yang lama. Lama kelamaan, keturunan Pengeran Jayakarta dan pengikutnya mulai beranak pinak di daerah ini hingga membentuk perkampungan keluarga bernama kampung Jatinegara Kaum. Pada saat itu, daerah Jartinegara hanya dihuni oleh keturunan keluarga pangeran Jayakarta dan pengikutnya saja. Dalam perkembangan selanjutnya wilayah Jatinegara pun mulai meluas dan dihuni oleh warga di luar keturunan Pangeran Jayakarta. Momentum perkembangan kota Jatinegara menjadi kota perdagangan terjadi pada tahun 1661, ketika seorang guru agama Kristen yang berasal dari Banda, Maluku, Meester Cornelis van Senen membeli sebidang tanah di Jatinegara yang berada di sekitar aliran sungai Ciliwung.Tanah yang dimiliki oleh Cornelis van Senen lambat laun berkembang menjadi pemukiman dan pusat perdagangan yang ramai. Sosok Meester Cornelis yang terkenal sebagai guru agama membuat masyarakat pun seringkali menyebut wilayah ini dengan nama Meester Cornelis atau Mester. Pada 6 April 1875 silam, sarana transportasi pendukung mulai dibangun di wilayah ini dengan diresmikannya jalur kereta yang menghubungkan Jatinegara dengan Jakarta Kota. Di tahun 1881, trem uap penghubung Kampung Melayu (Meester Cornelis) dengan Kota Intan (Batavia) pun mulai beroperasi. Jatinegara juga menjadi salah satu kota yang dilewati jalur Anyer-panarukan yang dibangun Daendels untuk pengembangan perekonomian pulau Jawa. Pada abad ke-19, Meester Cornelis pun menjadi kota satelit Batavia yang terkemuka. Sehingga 1 Januari 1936, pemerintah Belanda memasukkan wilayah Jatinegara ke dalam bagian kota Batavia.Kisah panjang yang dimiliki Jatinegara masih terlihat dari sejumlah peninggalan sejarah yang tersisa. Diantaranya adalah masjid kuno dan makam Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang terletak di Jalan Raya Jatinegara Kaum, di tepi timur sungai Sunter. Komplek makam yang terdiri dari makam Pangeran Jayakarta dan keluarga pangeran yang terletak di sebelah barat daya masjid. Sedangkan, gedung bersejarah peninggalan Belanda adalah Gedung Wedana Meester Cornelis yang terletak depan Stasiun Jatinegara.Di gedung bergaya Eropa inilah pemerintahan Jatinegara dipusatkan. Selain itu juga, bangunan ini digunakan untuk tempat tinggal Meester Cornelis.

Sumber : VIVAnews -  Maryadie, Zaky Al-Yamani



Meneropong Metamorfosis Hutan Gambir

Jumat, 25 Desember 2009












Stasiun Gambir Tahun 1925


Berawal dari rawa yang berkembang menjadi pasar malam, stasiun, dan nama sebuah kelurahan.
               
Deru lokomotif tak henti mengusik telinga. Bunyi berdecit gesekan rel dan hiruk pikuk manusia seakan tak pernah reda. Kebisingan itu jelas membangun harmonisasi khas sebuah stasiun kereta api. Gambir! 
Pasar Gambir Tahun 1922

Siapa yang tak mengenal Gambir? Hampir seluruh penduduk Ibu Kota mengenal Gambir sebagai stasiun kereta api terbesar di Jakarta. Stasiun yang dibangun pada 1930-an ini melayani rute ke hampir seluruh kota besar di Jawa.Awalnya, Gambir tak merujuk pada stasiun kereta api. Gambir justru merujuk pada pasar malam yang digelar untuk memperingati penobatan Ratu Belanda, Wilhelmina (nenek Ratu Beatrix). Wilhelmina dinobatkan sebagai ratu pada 31 Agustus 1898 silam.Pasar Gambir ada sejak tahun 1920-an. Letaknya di sekitar Stasiun Kereta Api Gambir  atau lapangan Monumen Nasional.  “Di sebut Pasar Gambir karena konon banyak pohon gambir di kawasan ini,” kata sesepuh Gambir, Harsono, saat berbincang dengan VIVAnews beberapa pekan lalu.Pohon gambir adalah sejenis tumbuhan bergetah, Uncaria Gambir,  yang biasa digunakan untuk menyirih. Kandungan katekin, bahan alami antioksidan, yang dimiliki tumbuhan ini juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat.Dalam sejarahnya, Pasar Gambir merupakan salah satu pasar terkenal di Batavia pada zaman kolonial Belanda. Di pasar itulah berbaur berbagai lapisan masyarakat dari segala penjuru Batavia. Tak heran jika masyarakat kemudian mengidentikkan kawasan di sekitar pasar itu sebagai Gambir. Termasuk penamaan stasiun yang berjarak beberapa meter dari pasar itu.Kini, selain dikenal sebagai nama stasiun kereta api, Gambir juga diabadikan sebagai sebuah kelurahan di Jakarta Pusat, yang menaungi stasiun tersebut.Perkembangan Gambir tak lepas dari campur tangan Gubernur Willem Daendels yang berkuasa di Batavia 1808-1811. Di kawasan yang semula berupa rawa itu ia membangun pusat pemerintahan. Kawasan Weltevreden ia menyebutnya.Kawasan Weltevreden meliputi Jakarta Pusat saat ini dengan batas utara Postweg dan Schoolweg (Jalan Pos dan Jalan Dr Sutomo Pasar Baru), batas timur de Grote Zuidenweg (Gunung Sahari Pasar Senen), dan batas selatan Kramat Raya hingga Parapatan. Daendels membangun istana, rumah sakit, tangsi militer, dan pemukiman elit di kawasan itu. Sejumlah bangunan masih tersisa. Salah satunya, Istana Daendels yang kini dipakai sebagai gedung Departemen Keuangan.


Sumber :  
·      vivanews.com
·      Pipiet Tri Noorastuti, Sandy Adam Mahaputra

Legenda Karet Tengsin


Bermula di Kebun Karet Saudagar Tiongkok.


Kawasan Karet Tengsin Tahun 1896




Karet Tengsin dulunya adalah perkebunan karet milik etnis China Betawi bernama Tieng Shin.Rimbunan perkebunan karet seluas 300 hektar yang terhampar di jantung pusat kota Jakarta, terpaksa harus tergusur akibat perkembangan zaman ke arah modernisasi.Pohon-pohon karet kini berganti wajah dengan gedung-gedung pencakar langit. Daerah yang dikenal dengan nama Karet Tengsing itu memiliki sejarah yang cukup panjang.  Menurut salah satu sesepuh Karet Tengsin, Husni MT, 60 tahun, asal mula nama daerah yang kini termasuk kawasan Segitiga Emas Kuningan,  berasal dari nama orang China yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Tieng Shin. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Tieng Shin cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Tieng Shin."Karena orang pribumi susah nyebutnya jadi Tengsin saja," ujarnya kepada VIVAnews.Memang pada waktu itu banyak pohon karet, Karet Tengsin dulunya adalah perkebunan karet milik etnis China Betawi bernama Tieng Shin.  "Di sini dulunya hutan yang ditubuhi berbagai macam pohon. Salah satunya pohon karet. Hutan ini kemudian berubah menjadi perkebunan karet oleh Tieng Shin," ungkapnya.Karena kekayaan yang berlimpah dan sikapnya yang dermawan membuat para pribumi banyak bekerja di perkebunan miliknya. "Warga di sini dulunya hidup sejahtera, kita biasanya makan dari hasil hutan yang cukup berlimpah. Banyak sayur mayur yang tumbuh subur. Jadi tidak udah beli tinggal ambil saja," ujar Ketua RT 06 RW 02 Karet Tengsin ini.Husni mengakui jika kakeknya Saidi merupakan teman akrab Tieng Shin. Tak hayal dirinya pun mengetahui sejarah tersebut. "Tieng Shin sudah berada di sini sejak 1890, dia memiliki rumah yang sekarang dibongkar menjadi Menara Batavia," tuturnya.Perkebunan karet milik Tieng Shin akhirnya tergusur setelah dibangunnya Stadion Gelora Bung Karno. "Jalan KH Mas Mansyur dulunya kebun karet, tapi akhirnya ditebang untuk dijadikan jalan," kenangnya.Kebun-kebun yang rindang dengan pohon karet akhirnya mulai menghilang, namun jejak keluarga Tieng Shin masih tetap bertahan meskipun tidak berlangsung lama. "Pasca meninggalnya Tieng Shin, anak dan cucu masih menetap, tapi tidak lama. Sejak rumah mereka juga ikut tergusur, jejak itu sirna," katanya.Husni mengaku sedih dengan kondisi Karet Tengsin saat ini. Warganya menjadi susah, lingkungan menjadi kumuh. Penduduk asli pun tak kuasa dengan adanya serangan dari gedung-gedung pencakar langit yang mulai menutupi rumahnya dari sinar matahari. Satu persatu mereka mulai angkat kaki dari perkebunan karet itu.Kali Krukrut yang melintasi perkebunan Karet Tengsin pun ikut terkena dari dampak modernisasi. "Dulu kalinya bening, kita masih suka mancing, mencuci, dan mandi. Tapi sekarang airnya kotor," ujarnya lirih.Kini Karet Tengsin hanya sepenggal cerita massa lalu yang selalu terkenang dengan keindahan perkebunan karetnya. Karet Tengsin merupakan Kelurahan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Karet Tengsin memiliki 70 RT yang terangkum dalam 9 Rukun Warga. Jumlah warga Karet Tengsin hampir 15 ribu jiwa. Mereka tinggal di atas lahan, termasuk lahan Pemakaman Karet Bivak yang terkenal itu seluas 153 hektar.


Sumber :
Maryadie, Sandy Adam Mahaputra
• vivanews.com

Legenda Kampung Bandan

Kamis, 24 Desember 2009




Menengok Kampung Budak di Batavia


Padahal di kampung ini ada cerita yang tersisa.Mungkin tidak banyak orang mengenal Kampung Bandan. Mereka yang mengenal pun agaknya menginisiasikan kampung yang berada di wilayah utara Jakarta sebagai tempat kumuh. Padahal di kampung ini ada cerita tersisa ketika Jakarta masih bernama Batavia. Berdasarkan catatan buku sejarah, dijelaskan asal muasal mengapa kawasan ini disebut kampung Bandan. Pertama, kampung yang berlokasi di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa ini diperkirakan berasal dari kata Banda, sebuah pulau di Maluku.Ditengarai ada sekumpulan masyarakat Banda, di zaman Batavia yang menghuni kawasan ini. Penyebutan ini disebut lazim mengingat kasus lain punya kemiripan seperti penyebutan nama kampung China sebagai pecinan, atau nama tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean, dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (Arab). Banda juga bisa berasal dari kata Banda dalam bahasa Jawa berarti ikatan dibanda (diikat). Ini dihubungkan dengan peristiwa yang sering dilihat oleh warga pada zaman pendudukan Jepang. Ketika itu Jepang sering membawa pemberontakan dengan tangan terikat melewati kampung ini untuk dieksekusi di Ancol. 
Kemungkinan ketiga, yakni bahwa Banda merupakan pengucapan dari kata Pandan. Sebab di masa lalu kampung ini dipenuhi pohon pandan sehingga warga menyebut Kampung Pandan kemudian menjadi Kampung Bandan.Apapun asal muasal nama tempat ini, yang pasti sejarah menyebutkan kampung ini merupakan penampungan budak dari Pulau Banda, Maluku, ketika JP Coen menaklukan pulau itu pada 1621.Pembantain besar-besaran dilakukan Coen. Mereka yang selamat diboyong ke Batavia, dan budak-budak tadi memberontak melawan VOC di Marunda, Jakarta Utara.Setelah periode perbudakan usai, para tawanan dipekerjakan di Pasar Ikan. Mengingat, kawasan kampung dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, yang otomatis dekat dengan Pasar Ikan.Mereka tetap mendiami kampung tersebut, tumbuh berkembang dan beranak pinak. Di kawasan itu akhirnya dibangun pula jalur kereta api, yaitu ketika Pelabuhan Tanjungpriok (baru) dibangun.Jalur kereta api itu untuk menghubungkan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pelabuhan Tanjung Priok.Selain terdapat stasiun, di Kampung Bandan juga masih berdiri sebuah masjid tua yang dikenal dengan nama masjid Kampung Bandan. Dengan kondisi yang kumuh, tak sehat, kotor, dan berantakan, kawasan ini tetap layak menjadi tujuan wisata karena menyisakan stasiun dan masjid dari abad ke-19. Kepala UPT Kota Tua, Chandrian mengatakan Kampung Bandan merupakan cagar budaya yang masuk dalam peta kawasan kota sesuai dengan peraturan Gubernur No 34 tahun 2006 adalah batas bagian timur yang masuk dalam program revitalisasi Kota Tua.Dengan kondisi yang kumuh di Kampung Bandan seakan membawa kita kembali melihat perbudakan dan kaum marginal di era postmodern Batavia.


Sumber : vivanews.com


Legenda Ancol


Cerita Si Manis di Wisata Air Asin



Ancol mengalami perjalanan terkelam pada masa pendudukan Jepang di tahun 1940-an.
Mungkin sebagian warga Jakarta mengenal sebutan Si Manis Jembatan Ancol. Satu mistis yang menjadi urban legend. Dari sini juga, salah satu sisi  Ancol dikenal. 
Namun sejatinya, Ancol dalam sejarahnya tidak hanya dikenal dengan tokoh yang sempat difilmkan ini. Ketika menyebut nama Ancol, akan juga teringat dengan sebuah tempat rekreasi yang terintegrasi dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol. 
Mahfum, saat ini Ancol memang lebih identik dan dikenal warga Jakarta sebagai kawasan wisata saja. Karena di kawasan ini terdapat bermacam taman wisata dan rekreasi permainan, mulai dari Dunia Fantasi, Sea World, Wahana Atlantis dan fasilitas lainnya. 
Padahal beragam kisah tersisa dari perjalanan panjang kawasan yang terletak di pesisir pantai utara kota Jakarta ini. 
Nama Ancol sendiri berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Karena dulu bila laut sedang pasang,  air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. 
"Karena faktor itulah orang Belanda pada zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zouteland atau 'tanah asin'" cerita Sekretaris Pusat Studi Betawi, Liliek Sofyan Ahmad. 
Kawasan Ancol sendiri terkenal sebagai lokasi rekreasi warga Jakarta sejak abad ke-17. Karena lokasinya yang terletak di pesisir pantai dengan hamparan pulau-pulau kecil yang menghias membuat Pantai Ancol memiliki daya tarik tersendiri.


Oleh karena itu kawasan ini sering dimanfaatkan sebagai lokasi peristirahatan oleh warga Batavia dengan membangun villa peristirahatan. 
Suasana Ancol yang pada waktu itu bernama Slingerland itu pun pernah dilukiskan oleh seorang perwira artileri VOC, Johannes Rach (1720-1783) pada tahun 1772 menggambarkan banyaknya vila-vila peristirahatan berdiri di sekitar pantai ini.  Di antaranya milik Gubernur Jendral Hindia Belanda Andriaan Valckneir (1737-1741). 
Menurut Alwi Shahab, sejak dulu Ancol memang dikenal sebagai tempat rekreasi. "Sejak tiga abad lalu, Ancol sudah menjadi tempat rekreasi khususnya bagi bagi warga Belanda untuk berakhir minggu," katanya. 
"Noni-noni Belanda rekreasi dengan dipayungi para budaknya menikmati Pantai Ancol" tulis Alwi dalam sebuah artikel. 
Namun, seiring eksodusnya warga Batavia ke wilayah Kota Baru Weltevreden pada akhir abad 18, Ancol mulai ditinggalkan. Pada masa itu pula, terkadang air Sungai Ciliwung meluap hingga mengubah kawasan tersebut menjadi kumuh dan berlumpur. 
Selain itu, mewabahnya berbagai penyakit di kawasan berawa ini semakin membuat kawasan ini ditinggalkan warga Batavia. 
Menurut Liliek Sofyan Ahmad, kawasan Ancol mengalami perjalanan terkelam pada masa pendudukan Jepang di sekitar tahun 1940-an. Pada masa itu rawa sekitar Ancol sempat menjadi tempat pembuangan bagi mayat orang Belanda yang melawan pemerintah pendudukan Jepang. 
Mayat mereka dibuang dan dikuburkan tanpa nama di kawasan rawa-rawa. "Tapi sekarang mayat-mayat tersebut sudah dimakamkan kembali sebagaimana mestinya di lokasi pemakaman Ereveld Ancol" ujar 
Lilik menuturkan, komplek pemakaman tersebut saat ini berada di kawasan sebelah timur Taman Impian Jaya Ancol. Di kawasan tersebut tampak nisan berbentuk salib putih berjajar rapih. 
Akibatnya, kawasan yang semula pusat rekreasi berubah menjadi sepi dan menyeramkan. "Dulu waktu saya kecil, Ancol sempat dijuluki tempat jin buang anak" ujar seorang warga yang pernah menetap di kawasan Tanjung Priok pada tahun 1950-an ini, Siti Astuti, 55 tahun. 
Karena kawasan yang sudah dipenuhi lumpur dan rawa ini selalu dalam keadaan sepi, hanya gerombolan monyet liar yang memenuhi kawasan tersebut. 
Selain itu, kisah misteri yang melegenda di kalangan warga sekitar membuat warga enggan melintas di kawasan tersebut pada malam hari "Kuntilanak sering mengganggu pengendara yang melintas di jembatan Ancol" ujar Siti Astuti.Konon katanya kuntilanak tersebut merupakan perwujudan dari seorang gadis pribumi, Ariah yang tewas saat hendak diperkosa oleh seorang pemuda berandalan. Cerita ini pun berkembang sehingga sempat difilmkan yang bertajuk Si Manis Jembatan Ancol. 
Keadaan Ancol yang kian terpuruk ini tidak dibiarkan saat Soekarno mulai memerintah. Untuk mengembalikan kejayaan Ancol masa lalu, maka Presiden Soekarno mempunyai ide untuk mengembalikan kawasan Ancol sebagai kawasan wisata bagi warga jakarta. 
Mulailah pada tahun 1966 kawasan Ancol dibenahi. Diawali dengan pembangunan kawasan Pantai Bina Ria Ancol yang terkenal dengan Theater Mobil di era 1970-an. 
"Walau hanya sebentar, pusat judi dengan nama Copacabana pun sempat ada di kawasan ini," ujar Liliek. 
Bangunan pun terus berlanjut hingga saat ini. Satu persatu tempat rekreasi didirikan di kawasan Taman Impian Jaya Ancol ini. Dimulai dengan dibangunnya Dunia Fantasi dan arena rekreasi lainnya seperti Gelanggang Samudera dan Seaworld membuat Ancol bertransformasi dari sekedar tempat peristirahatan Noni Belanda hingga menjadi pusat rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia. 
Saat ini kawasan seluas 552 hektar ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan Pademangan, Kotamadya Jakarta Utara. Di sebelah barat, Ancol bersisian dengan Kota Tua. Sementara sisi sebelah timur berbatasan dengan kompleks Pelabuhan Tanjung Priok.


Sumber :
• vivanews.com

Kampung Ambon

Sabtu, 28 November 2009



Kampung Ambon

Kampung Ambon terletak dalam wilayah kelurahan Kayu Putih bagian tengah, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Keadaan geografis Kampung Ambon ialah dataran rendah dengan warna tanah coklat kemerahan, lapisan paling atas sangat subur dapat ditanami segala macam tanaman buah-buahan, tanaman hias dan pohon pelindung.Oleh karena perkembangan waktu dan perkembangan penduduk, daerah ini menjadi tanah hunian penduduk. Perubahan penggunaan tanah lebih meluas lagi setelah proyek perumahan, proyek pacuan kuda oleh Yayasan Pulomas pada tahun 1967. Adapun nama Kampung Ambon berasal dari kata Kumpi Ambon yaitu sebuah kuburan tua yang kini dianggap keramat oleh masyarakat kampung Ambon. Keramat Kumpi Ambon ini sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh orang luar selain oleh masyarakat kampung Ambon sendiri. Tentang Keramat Kumpi Ambon ada beberapa pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Pendapat pertama dari Bapak Asnawi. T, staf kelurahan Kayu Putih menerangkan bahwa Kumpi Ambon adalah keramat orang Jakarta asli, Ambon adalah nenek moyang masyarakat kampung Ambon yang pertama yang dimakamkan di kampung Ambon. Dan kini oleh ahli warisnya, keramat Kumpi Ambon dirawat dengan baik bahkan diberi sesajian berupa berbagai jenis kembang pada waktu tertentu.
Kedua pendapat dari bapak Urip mengatakan bahwa keramat Kumpi Ambon adalah kuburan orang-orang Ambon yang dahulu pernah tinggal di kampung Ambon, mereka adalah pegawai atau penjaga kuda Kompeni Belanda. Orang-orang Ambon ini didalam hidupnya lebih banyak mengadipkan diri untuk kepentingan Kompeni Belanda dibandingkan dengan kepentingan bangsanya sendiri. Adapun pendapat dari bapak H. Salim (80 tahun), bekas staf kelurahan Kayu Putih mengatakan bahwa nama kampung Ambon dapat dihubungkan dengan orang-orang Ambon. Mereka adalah para pensiunan tentara Kompeni Belanda yang kemudian dibuang ke kampung Ambon. Walaupun nama kampung Ambon merupakan nama kampung yang paling tua namun nama kampung Ambon tidak dipakai untuk nama kelurahan karena nama ini tidak disenangi oleh masyarakat luar. Demikian pula kelurahan Rawasari semula akan diberi nama Beek Meester Kampung Ambon, tetapi nama tersebut tidak dipakai karena istilah Ambon saat ini tidak disenangi masyarakat.
Pada tahun 1937 kelurahan Rawasari dibagi menjadi 4 daerah kemandoran dan masing-masing dipimpin oleh seorang mendor (kepala lingkungan) yaitu :

1.Mandor Salim bin mandor Amid, meliputi wilayah :
  • Kampung Jawa (Rawasari).
  • Kampung Rawa.
  • Kampung Mangun.
2.Mandor Tugiman, meliputi wilayah :
  • Rawa Kerbau.
  • Sumur Batu.
  • Pendongkelan.
  • Kampung Banda (Cempaka Putih).
3.Mandor Baan, meliputi wilayah :
  • Kampung Ambon.
  • Kampung Tanah Tinggi.
  • Kampung Kayu Putih.
4.Mandor Ilyas, meliputi wilayah :
  • Kawi-kawi.
  • Utan Kayu Pasar Genjing.

Pada tahun 1965 kelurahan Rawasari dibagi 4 kelurahan yaitu :
  1. Kelurahan Rawasari, kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
  2. Kelurahan Utan Kayu, kecamatan Matraman, Jakarta Pusat.
  3. Kelurahan Kayu Putih, kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur.
  4. Kelurahan Cempaka Putih, kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Pada tahun 1968 Mandor Baan diinstruksikan oleh lurah Rawasari untuk mempersiapkan pembentukan sebuah kelurahan, lalu diadakan musyawarahyang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat, antara lain : Haji Sayuti, Mandor Baan serta para sesepuh dari kampung Ambon, Kampung Tanah Tinggi dan Kampung Kayu Putih.
Dalam musyawarah tersebut diajukan beberapa usul antara lain :
  • Usul sebagian tokoh masyarakat yang menghendaki nama kelurahan bernama kelurahan Kampung Ambon dengan alasan bahwa kampung Ambon adalah kampung tertua selain itu juga terdapat keramat Kumpi Ambon.
  • Usul lain menghendaki nama kelurahan bernama kelurahan Tanah Tinggi dengan alasan bahwa selain tanahnya yang tinggi juga terdapat pohon panggang yang tinggi yang terlihat dari Tanjung Priok.
  • Sedang usul yang lainnya menghendaki dinamakan kelurahan Kayu Putih karena terdapat keramat Kayu Putih.
Musyawarah tersebut gagal membentuk nama sebuah kelurahan yang baru, maka setelah musyawarah terakhir dicapailah kesepakatan yaitu nama kelurahan yang baru adalah kelurahan Kayu Putih.
Pengusulan nama kelurahan kampung Ambon tidak dapat disetujui karena di kampung Ambon tersebut ternyata tidak ada orang Ambon. Kini wilayah kampung Ambon menjadi daerah perumahan yang dikelola oleh proyek By Pass dan Proyek Cempaka Putih.
Benda-benda bersejarah yang terdapat di Kampung Ambon berasal dari jaman VOC Belanda dan juga dari tokoh-tokoh masyarakat setempat yang merupakan perintis pembangunan daerah ini. Adapun benda-benda peninggalan tersebut antara lain :
Paal
Benda ini terbuat dari batu cor dengan ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah. Bentuknya agak gepeng dan nampaknya berkilau seakan-akan menyerupai batu giok dan diatas paal tersebut terdapat huruf VOC. Paal ini dibuat oleh pemerintah kompeni Belanda dan berfungsi sebagai patok guna menunjukkan batas-batas wilayah kota Batavia, batu cor ini juga ditemukan di daerah lain seperti Pal Merah, Pal Busuk, Pal Meriem, Mester Cornelis dan lainnya. Batas-batas kota Batavia tersebut ditarik dari gedung yang kini dikenal dengan nama gedung kesenian yang terletak di jalan Pasar Baru Jakarta. Kini sebagian besar batu-batu paal itu sudah tidak diketahui lagi rimbanya.
Kramat Kumpi Ambon
Makam Kramat Kumpi Ambon terletak di kampung Ambon dan makam tersebut kini berbentuk onggokan tanah dengan ukuran 2 x 1 meter. Di sekeliling makam diberi batas-batas terbuat dari semen sedangkan bagian serambi berlantai ubin dan seIuruh makam dikeliliigi oleh tembok yang terbuat dari batu bata berbentuk rumah dengan genteng sebagai atapnya. Ukuran keseluruhan makam kurang lebig 2,5 x 3 meter.
Pakaian Haji Abdul Gani
Haji Abdul Gani adalah seorang penduduk asli kampung Ambon yang hidup 150 tahun yang lalu dan memiliki ilmu tinggi baik dalam bidang keagamaan maupun kebatinan. Disamping itu sebagai pendiri masjid yang diberi nama masjid Abdul Gani. Selain peninggalan masjid Abdul Gani juga terdapat peninggalan sepasang pakaian beliau yang biasanya dipakai melakukan syiar agama lslam. Model pakaian tersebut berbentuk pakaian kodaniah dengan motif kotak-kotak. Pakaian tersebut kini disimpan rapi oleh ahli warisnya dan tidak boleh dipakai sembarangan orang.
Kramat Kayu Putih
Ini kisah tentang makam yang dikeramatkan yang harus dipindahkan karena adanya proyek perumahan mewah, ternyata kepala proyek tersebut meninggal secara mendadak sewaktu pembongkaran makam. Makam Kayu Putih adalah salah seorang tentara Mataram yang mengadakan penyerangan ke Batavia untuk menghancurkan benteng kompeni Belanda. Sekarang, makamnya terdapat di pemakaman umum Pondok Gede.
Kramat Kumpi Bunga
Ki Bunga adalah seorang sakti yang dapat menentukan arah patung singa (lambang kota Batavia) tepat menghadap ke arah negeri Belanda. Lokasi patung singa tersebut terdapat di lapangan Banteng. Karena keberhasilan tersebut, Ki Bunga mendapat hadiah uang dan dibebaskan membayar pajak tanah (pajak verponding). Kini, setiap bulan Maulid diadakan selamatan Kumpi Bunga.

Masyarakat kampung Ambon mengenal berbagai cerita rakyat tentang kepahlawanan, kesaktian yang pernah dialami oleh tokoh-tokoh masyarakat kampung Ambon dahulu, diantaranya Bambu Kuning, kisah ini tentang seorang dukun sakti dalam pengobatan seseorang dengan jalan menancapkan bambu kuning ke tanah lalu kemudian memancar air dalam tanah tersebut, air tersebut lalu diminumkan ke orang yang sedang sakit.
Penduduk kampung Ambon terdiri dari Betawi, Jawa, Sunda, Batak, Padang, Cina dan sebagainya. Mayoritas penduduk Betawi menempati kampung Pedongkelan dan kampung Pulau Nangka. Sedangkan bagi penduduk Betawi yang terkena proyek Yayasan pulomas dipindahkan di Kampung Baru dan Tanah Poncol. Masalah yang rumit yang timbul di kampung Ambon adalah masalah urbanisasi. Biarpun kota Jakarta sudah dinyatakan sebagai kota tertutup untuk pendatang baru berdasarkan SK Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1.B.3/27/70 tanggal 5 Agustus 1970, tetapi para pendatang baik dari Jawa maupun dari luar Jawa bermukim di Jakarta. Padahal tanah di Kelurahan Kayu Putih sebagian besar sudah dikuasai oleh yayasan Pulomas, tetapi masih saja terjadi penyerobotan tanah oleh pendatang baru seperti terjadi di komplek Tanah Sarjana Mandala UI. Mereka mendirikan bangunan tidak melalui prosedur sehingga menyulitkan pihak pemerintah setempat. Pada mulanya, mata pencaharian penduduk kampung Ambon adalah bertani. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan sendiri, andaikata ada yang dikirim kedaerah lain maksudnya adalah lebih bersifat sosial. Perubahan kehidupan corak agraris mulai surut setelah revolusi fisik tahun 1945.

Mata pencaharian yang banyak dilakukan penduduk Ambon adalah :
Pegawai negeri;
ABRI;
Pegawai Swasta;
Berdagang;
Buruh/Pertukangan;
dan sebagainya.

Kegiatan yang agak menonjol dan dilakukan hampir semua wanita kampung Ambon adalah menganyam tikar pandan yang bahannya sengaja ditanam sebagai batas pekarangan. Daunnya yang panjang serta kuat dan kenyal diiris memanjang sesuai dengan kebutuhan lalu kemudian direbus sampai lapisan hijaunya terlepas. setelah dijemur, diperoleh bahan baku anyaman tikar berwarna putih, lentur dan cukup kuat. Hasil anyaman tikar ini dijual oleh suaminya 1-2 kali seminggu langsung ke konsumen atau tengkulak.
Masyarakat kampung Ambon nampaknya mengalami suatu pergeseran sistem kemasyarakatan yang terlalu cepat. Kampung yang semula teguh dan kokoh dalam memegang suatu tradisi yang sudah turun temurun, kini dihadapkan dengan setumpuk permasalahan social yang timbul karena adanya proyek-proyek pemukiman real estate, dengan banyaknya pendatang yang mempunyai adat yang kebiasaan yang berbeda. Nilai-nilai dan tatanan masyarakat lambat laun berubah dan saling menyesuaikan, ini akibat timbulnya akulturasi kebudayaan. Ciri-ciri kebudayaan lama hidup bermasyarakat sampai sekarang masih dipertahankan, seperti suasana masyarakat pedesaan yang banyak menonjolkan sifat-sifat kolektif yang positif, misalnya solidaritas gotong royong dalam mendirikan bangunan, hajatan dan sebagainya.
Tradisi masyarakat Betawi kampung Ambon yang masih tersisa adalah pada saat dilangsungkan perkawinan. Sebelum dipertemukan kedua calon mempelai, penganten pria diarak dari rumahnya dengan pakaian penganten yang lengkap. Beberapa pemuka masyarakat, anggota keluarga serta seorang ahli silat ikut pula dalam iring-iringan itu sambil membawa semacam dandang dipunggungnya. Ketika rombongan penganten pria tiba di depan pekarangan rumah penganten wanita, ahli silat tersebut berada didepan untuk membuka jalan. Dan dari pihak mempelai wanita tampil pula seorang jago silat untuk menyambut kedatangan rombongan penganten pria. Pada saat itulah ditampilkan sebuah acara tradisional mengawali pertemuan kedua calon beserta rombongan. Kedua jago silat itupun menunjukkan kebolehannya dalam permainan silat dan dengan cepat terlibat dalam adu kekuatan, pukul memukul, menendang, mendorong dan kadang-kadang disertai adegan yang mengundang ketawa. Tujuan pertarungan kedua jago silat ini adalah memperebutkan dandang yang dibawa dari rombongan penganten pria. Seperti sudah diatur, wakil dari rombongan pria akhirnya menyerah, memang inilah yang dikehendaki sebagai simbol penyerahan mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita.
Dalam upacara perkawinan, pengantin wanita biasanya ditandu sedangkan penganten pria berjalan kaki dalam arak-arakan berkeliling kampung yang diiringi oleh berbagai kelompok kesenian.
Adapun kesenian masyarakat Kampung Ambon yang terkenal adalah kesenian yang dipengaruhi oleh kebudayaan Cina yaitu Terompet Cina dan Barongan (Ondel-ondel). Khusus kesenian Ondel-ondel Kampung Ambon ini sering mengadakan pertunjukkan yang sifatnya resmi, baik pada masa jaman penjajahan Belanda maupun sesudah jaman kemerdekaan RI. Selain itu, jenis kesenian yang pernah ada di Kampung Ambon adalah kesenian rebana biang Ki Katel yang dianggap mempunyai tuah.

Referensi: Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993.
Sumber: diskominfomas

 
 
 
 
Copyright © Situs Betawi