Judul
Kelompok
- Anak Betawi (3)
- Bangunan Sejarah (15)
- Cerita Betawi (3)
- Gubernur (13)
- Kampung Tua (11)
- Kesenian (9)
- makanan (2)
- Sejarah (37)
- Wilayah (1)
Nimbrung
|
|
Mau Kenal
- Wahyudin
- Generasi yang masih cinte ame budaye serte adat istiadatnye.....Betawi
Gedung Kesenian Warisan Raffles
Sabtu, 30 Januari 2010
Jembatan Pasar Baru, Jakarta Pusat diabadikan pada 1880. Di samping kanannya tampak Gedung Kesenian yang dibangun pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816). Dimasa kolonial bernama shouburg. Jalan raya disebelah kiri Pasar Baru dulu bnernama Schoolweg atawa Jalan Sekolah. Karena pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda mendirikan beberapa sekolah diantaranya Europese Lager School yang diperuntukkan hanya untuk orang-orang Belanda.Tampak jalan-jalan masih diterangi oleh lampu gas. Lampu gas mulai nongol di Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) pada 1863. Pertama kali menerangi Istana Risjwijk (kini Istana Negara) pada Oktober 1863, satu tahun setelah berdirinya Perusahaan Gas Hindia Belanda di Gang Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin) di sebelah kiri Jl Gajah Mada dari arah Harmoni. Kini menjadi Perum Gas Negara. Gas menggantikan minyak tanah dan lilin untuk penerangan di rumah-rumah, kantor, pusat perdagangan dan perhotelan.Dalam foto terlihat bagaimana asrinya sekitar Pasar Baru dan Lapangan Banteng dengan pohon-pohon asem di kiri kanan jalan. Sementara kendaraan bermotor belum tampak. Juga tidak terdapat para pedagang kaki lima yang kini mendominasi trotoar di sekitar Pasar Baru hingga Lapangan Banteng dan Jl Gunung Sahari.Gedung Kesenian di Pasar Baru semula hanya terbuat dari bambu beratapkan rumbia. Tentara Inggris membangunnya khusus untuk tempat pementasan perkumpulan drama mereka ketika bercokol di Jawa (1811-1816). Para prajurit Inggris sesuai dengan pimpinannya Sir Thomas Raffles, sangat menyukai kesenian. Buktinya, setahun setelah mereka mendarat di Batavia sejumlah perwira bujangan sudah menyalurkan bakat dan minat mereka.Pada malam peresmian Gedung Kesenian dipentaskan drama Othello karya sastrawan terkemuka William Shakespeare. Seperti juga bioskop yang muncul akhir abad ke-19, penonton pria dan wanita dipisah. Pada zaman Jepang (1942-1945), acara-acara di Gedung Kesenian diisi seniman muda seperti Usmar Ismail, Rosihan Anwar, H.B. Yassin, Soeryo Soemanto, D. Djayakjuysumah, Kusbini dan Cornel Simanjuntak.Pada 29 Agustus 1945 di gedung ini berlangsung sidang pertama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) semacam parlemen sekarang. Dihadiri Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Ketua KNIP Kasman Singodimedjo dari Partai Masyumi. Seorang turis Eropa yang datang ke Batavia setelah peresmian menilai gedung kesenian ini tidak kalah menariknya dari gedung kesenian serupa di Eropa.
Sumber :
Diposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Bangunan Sejarah, Sejarah
Trem Mester-Pasar Ikan
Trem lijn (jurusan) I baru tiba di halte (terminal) Meester (Kampung Melayu) dari Pasar Ikan. Sang masinis turun untuk minum secangkir kopi di depan terminal yang berhadapan dengan bioskop Nusantara (kini jadi pertokoan) itu. Sementara, sang kondektur tengah menghitung duit logam picisan (10 sen) yang bentuknya sedikit lebih kecil dari uang Rp 50. uang hasil narik dari Pasar Ikan ke Mester.Satu persatu penumpang rebutan naik. Hanya dalam beberapa menit trem sudah penuh. Tapi, sang masinis yang rambutnya cepak meniru rambut Tony Curtis, bintang Hollywood yang kesohor ketika itu, belum naik ke lokomotif. Rupanya sang masinis masih menikmati kopi dan ngobrol bersama rekan-rekannya. Di gerbong yang padat seperti KRL, beberapa penumpang dengan beragam dandanan dan kebanyakan berpakaian baru karena habis lebaran, mulai tidak sabar."Trem ayo jalan," teriak seorang penumpang yang disusul dengan penumpang lainnya.
Seorang bapak berpakaian baju tikim warna hitam dan kopiah hitam muncul. "Assalamu'alaikum", teriaknya dan satu persatu penumpang diajaknya berjabat tangan. Disambut para penumpang dengan senyum. Beberapa pemuda yang mengenakan pakaian jengki dan berjaket meniru gaya aktor James Dean dalam film Giant tertawa terkekeh-kekeh. Termasuk sang kondektur.Untungnya, ada seorang bapak yang ingin ziarah ke Luar Batang di Pasar Ikan tak tega melihatnya. "Pak, gak usah salaman. Terompanya juga jangan dilepas. Ini bukan masigit.Tapi kendaraan kita, warisan Belanda.
Neng-neng-neng-neng.
Trem mulai melaju. Kemudian berhenti di Pasar Jatinegara. Seorang nyonya Cina naik membawa sekeranjang barang untuk dijual kembali di warungnya. Menyusul beberapa orang ibu berkain batik, berkebaya dan berkerudung, masuk ke trem. Mereka mau ke CBZ (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo - RSCM). Mau bezoek temannya yang keseruduk oplet. Untung lukanya tidak parah, hanya besot-besot dan lecet-lecet. Tidak sampai geger otak. Setelah melewati Salemba dan Gang Kenari, trem kemudian berhenti di halte Kramat depan bioskop Rivoli. Bioskop ini tengah memutar film Awara, yang dibintangi Raj Kapoor dan Nargis. Raj Kapor adalah ayah Rishi Kapoor, bintang 1970-an. Keduanya pernah datang ke Indonesia. Kini cucu-cucu Raj Kapoor, seperti Kharisma dan Kharina Kapoor, menjadi artis papan atas di Bollywood.
Neng-neng-neng-neng.
Trem berhenti di depan bioskop Grand. Manusia tampak berdesak-desakan untuk antre karcis. Maklum yang diputar film cowboy High Noon dengan aktor Carry Cooper. Mereka yang tak kuat ngantre terpaksa beli karcis catutan. Grand bioskop didirikan tahun 1920-an tidak lama setelah berakhirnya film gagu (tanpa suara). Kemudian trem berhenti di halter Pasar Senen. Banyak penumpang turun ingin belanja di Toko Baba Gemuk (kini pertokoan Ramayana) yang terkenal ketika itu. Ketika menyelusuri Jl Tanah Nyonya (kini bagian Jl Senen Raya) trem berhenti. Ada becak yang jalan pelahan di depannya. "Hai becak! Apa lu kagak bisa minggir," teriak kondektor sewot. Tukang becak menjawab dengan adem, "Gua sih bisa. Lu yang kagak."
Ketika tiba di Pasar Baru, kembali penumpang yang naik dan turun saling serobot. Banyak ibu-ibu yang turun ingin belanja di Toko De Zon (kini Toko Matahari). Dimulai dari Pasar Baru, pertokoan Matahari kini memiliki ratusan toko di seluruh Indonesia. Kala itu, Pasar Baru merupakan pertokoan paling bergengsi di Jakarta. Dimulai ketika Gubernur Jenderal Daendels memindahkan kota lama di Pasar Ikan ke Weltevreden. Untuk kepentingan shopping warga Barat dibukalah Pasar Baru dan sejumlah bioskop di dekatnya. Setelah melawati Pecenongan dan Sawah Besar, trem membelok ke Gang Ketapang. Setelah melintasi Olimo di Jl Hayam Wuruk, trem berhenti di halte Lindeteves tidak jauh dari China Town (Glodok). Lindeteves adalah nama salah satu dari lima perusahaan besar Belanda, disamping Borsumij, Geowehry, Internatio dan Van Gorkom. Kelima perusahaan inilah yang mengatur ekspor impor dan distribusi bahan-bahan pokok ke seluruh Nusantara. Kelimanya diambil alih 19567 ketika hubungan RI - Belanda memburuk karena sengketa Irian Barat (Papua).
Neng-neng-neng-neng.
Memasuki Glodok yang sejak dulu selalu hiruk-pikuk, trem sering tehenti karena padatnya lalu lintas. Terutama becak yang membelok seenaknya. Di tempat yang sekarang terdapat pertokoan Harco dulu terdapat Bioskop Orion yang memutar film-film Cina, terutama cerita jago-jago silat Bu Tong Pay dan Siaw Liem Soen. Banyak penumpang turun di Glodok bukan untuk nonton film, tapi membeli obat-obatan Cina. Ada belasan sinshe dan rumah obat Cina terdapat di sini. Di sekitar sinilah dua surat kabar Cina berbahasa Melayu rendah Keng Po dan Sinpo dicetak. Trem kemudian melewati Beos (Stasiun KA) dan Gedung Bicara (bekas kantor walikota VOC) yang kemudian menjadi Museum Sejarah DKI Jakarta. Kemudian sampailah trem di perhentian terakhir halte Kota Inten di Pasar Ikan. Inten adalah nama benteng yang didirikan VOC. Orang piknik ke Pasar Ikan untuk menyaksikan akuarium, tempat muda-mudi tempo doloe berpacaran. Sebagai oleh-oleh dari Pasar Ikan orang membeli congklak, bijinya dari kerang. Atau membeli akar bahar untuk mereka yang kena rematik.
Sumber : Alwi Shahab
Diposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Sejarah
Kali Opak Jejak Sejarah Jakarta
Kali Opak Jakarta Abad 19
Foto abad ke-19 ini menunjukkan puluhan kapal layar yang mengarungi lautan di Nusantara tengah berlabuh di Kali Opak (anak sungai Ciliwung di sebelah barat Kali Bear, Jakarta kota.Tak disangsikan lagi, kawasan Kali Opak dan sekitarnya ditinjau dalam konstelasi kesejarahan memiliki nilai yang unik.Di sinilah kita menjejak situs situs yang menjalin benang sejarah Kota Jakarta, yang kini menjadi kota megapolitan dengan penduduk belasa juta jiwa.Dan, masih akan terus bertambah.Di barat Kali Opak diperkirakan letak kota perjuangan Jayakarta. Di ujung utara dari tempat ini merupakan pelabuhan,dan di selatan terdapat keraton terdiri atas perumahan para bangsawan, masigit, pasar, dan alun-alun. Di sebelah timur Kali Opak diperkirakan bekas benteng Fort Jacatra yang kemudian dikembangkan jadi Kastil Batavia. Kastil dilengkapi dengan bastion (benteng pertahanan), yang kini masih tersisa adalah benteng Kota Intan, yang menjadi terminal angkutan Jakarta kota. Terletak di sisi Kali Opak.Dimulai dari kota tua ini,perjuangan telah menjadi bagian hidup kota Jakarta yang kini tengah menuju statusnya sebagai kota dunia. Kini,Pemprov DKI Jakarta berupaya melakukan revitalisasi kota tua yang terletak di tepi pantai. Jakarta, tampaknya memang ditakdirkan untuk menoleh kembali ke laut, ke tempat perjuangan para leluhurnya. Di laut adalah tempat para pendiri kota berjuang untuk melahirkan sebuah kota bernama Jayakarta (22 Juni 1527). Sayangnya, Ciliwung dan 12 buah anak sungai di Jakarta sudah berubah fungsi menjadi got (selokan) besar. Akibat industri membuang limbah dan ratusan ribu masyarakat menduduki bantarannya,menyebabkan sungai-sungai rawan banjir. Realita faktual menunjukkan bahwa wajah Jakarta yang pada abad ke-19 pernah dijuluki Ratu dari Timur (Koningen van Het Oosten),kini makin kumuh. Dalam upaya menarik wisatawan asing sebanyak mungkin,Pemda DKI terus melakukan revitalisasi terhadap kawasan kota tua, yaitu seluruh kawasan yang bersejarah di antaranya Sunda Kelapa, kota lama Jakarta, dan Pantura (Kota Pantai Jakarta abad ke-21).
Sumber : Alwi Shahab
Diposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Sejarah
Kali Jodo dan Jembatan Jassen
Nama Kali Jodo di Kelurahan Angke, Jakarta Barat, sudah ada sebelum menjadi tempat lokalisasi WTS atau sekarang PSK. Sejak terjadi perkelahian antar geng dan pembakaran rumah beberapa tahun lalu, pihak kepolisian meminta agar lokalisasi tersebut ditutup.
Kali Jodo pernah diusulkan untuk dijadikan tempat kegiatan keagamaan, seperti yang telah dilakukan di Kramat Tunggak, Jakarta Utara, dengan dibangunnya Islamic Centre. Masyarakat mendukung dan tengah menunggu bila tempat maksiat tersebut dijadikan pusat kegiatan keagamaan. Semasa gubernur Sutiyoso juga ada rencana untuk menjadikan tempat lokalisasi Boker, di Cijantung, Jakarta Selatan, menjadi Islamic Centre.
Orang Jakarta sejak tempo doeloe menamakan suatu tempat berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi. Mungkin di kali ini dulu seringkali para gadis dan pria berpacaran dan berakhir dengan perjodoan. Dulu di kali ini tiap tahun diselenggarakan pesta peh coen hare ke-100 Imlek (tahun baru Cina). Pesta ini menarik para muda-muda yang ingin menyaksikan beragam keramaian seperti barongsai dan pesta ngibing diiringi gambang keromong. Banyak taipan yang menjadi sponsornya.
Pusat Perdagangan Harco di Glodok, Jakarta Barat, baru dibangun pada masa Orde Baru, saat Indonesia membuka diri di bidang ekonomi, sehingga banyak berdatangan modal asing. Pada masa Bung Karno, Indonesia memegang prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi.
Begitu meriahnya pembeli yang mendatangi pusat perdagangan elektronik itu hingga namanya dikenal di mancanegara. Pusat perdagangan Harco dibangun tahun 1970-an berbarengan dengan pusat perdagangan dengan nama yang sama di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Pemborongnya H Abubakar Bahfen, seorang keturunan Arab.
Sebelumnya, pusat elektronika Harco merupakan bagian dari Markas Polisi Seksi II semacam Polsek sekarang. Banyak pejuang kemerdekaan yang mendekam di penjara polisi ini, karena menentang pemerintah kolonial. Termasuk Drs Muhammad Hatta yang dipenjarakan tahun 1934 karena kegiatan politiknya. Kemudian sang proklamator ini dibuang ke Boven Digul yang merupakan pusat konsentrasi tahanan politik dan dikenal sebagai sarang malaria.
Di pusat perbelanjaan ini dahulu terdapat Bioskop Orion yang memutar film-film Mandarin dari Hongkong. Penontonnya kebanyakan warga Tionghoa. Di dekatnya di jalan yang sama (Jl Hayam Wuruk) terdapat tempat hiburan Thalia yang memutar opera-opera Stambul (dari kata Istambul di Turki).
Di seberangnya ada Jalan Gajah Mada. Di sini terdapat bekas kediaman Mayor Cina, Khouw Kim An, yang dulun merupakan gedung paling indah di Jakarta Kota. Kini menjadi gedung bertingkat 30 yang dibangun oleh Modern Group. Banyak yang menyesalkan tempat bersejarah ini diruntuhkan begitu saja. Rumah bergaya negeri leluhur ini punya puluhan kamar. Karena, ia memiliki banyak istri dan selir, yang hidup dalam satu gedung. Kebiasaan yang dianggap umum kala itu.
Di dekat stasion kereta api BEOS, Jakarta Kota, seberang Gereja Portugis (Sion), terdapat jembatan Jassem (kini Jembatan Batu). Pada tempo doeloe masyarakat sering menyaksikan pesta-pesta meriah di sekitar jembatan ini. Seperti saat pelantikan kapiten Cina ke-12 Lim Bengko pada masa gubernur jenderal Van der Parra (1771-1775). Pawai besar diikuti oleh musik, barongsai, nyanyian, dan tarian, yang diikuti ratusan pengarak, dimulai dari jembatan ini keliling Jakarta Kota.
Masih di kawasan Glodok, terdapat Jalan Jie Lak Keng . Orang menyebutnya Jl Jelakeng, artinya tempat nomor 26. Di sini ada perkumpulan silat Pa Te Koan yang artinya delapan pendekar. Ketika terjadi pembantaian orang-orang Cina (1740), banyak suhu tewas melawan Belanda. Maka, di dekatnya ada Kampung Pa Tie Kei (delapan jenazah).
Ada juga yang mengatakan Pa Te Koan berarti delapan teko. Karena, istri seorang kapiten Cina yang dermawan tiap hari menyediakan delapan teko teh di depan kediamannya untuk mereka yang lewat. Ketika itu daerah ini masih sepi, belum ada yang menjual makanan dan minuman.
Terletak di sebelah kiri Jl Pangeran Jayakarta, kurang lebih satu kilometer dari Stasion Beos terdapat Jl Taruna jalan sempit yang tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Dulu jalan ini bernama Jl Souw Beng Kong nama Kapiten Cina pertama yang dimakamkan di sini. Dia diangkat oleh gubernur jenderal JP Coen pada tahun 1619 setelah hijrah ke Batavia dari Banten.
Kini makam tersebut hanya tinggal batu nisannya. Karena, seluruh bagian makam itu sudah menyatu dengan rumah penduduk. Sampai pertengahan 1960-an di tiga RT di kawasan ini seluruhnya merupakan tempat pemakaman orang-orang Cina. Ia pernah membangun sebuah wisma mewah di dekat kastil (benteng) di Prinsenstraat (kini Jl Cengkeh) Pasar Ikan, Jakarta Utara.
Kaum Cina perantauan ( hoakiau ) pada umumnya bangga menjadi ahli waris kebudayaan leluhurnya. Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew yang dianggap sebagai bapak bangsa Singapura pernah mengemukakan, "Adalah Konfusionisme yang menjalin persatuan dalam keluarga, yang pada gilirannya membesarkan anak cucunya menjadi cendekiawan yang tangguh, tahan banting dalam menghadapi tantangan. Kita adalah contoh hidup dari rakyat Cina, yang berkat ilham dan kebudayaan Cina, maka dapat berprestasi gemilang."
Sumber : Abah Alwi
http://koran.republika.co.id/berita/93814/Kali_Jodo_dan_Jembatan_Jassen
Diposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Sejarah
Jan Pieterzoon Coen di Departemen Keuangan
Ketika Gubernur Jenderal Marsekal Herman Daendels (1808-1811) menghancurkan kastil di kota bertembok Batavia (sekitar Pasar Ikan) Jakarta Utara, dia memindahkan pusat kota ke Weltevreden sekitar belasan kilometer dari kota lama. Di sini, Daendels, pengagum Kaisar Prancis Napoleon Boneparte, membangun pusat administrasi dan istana yang kini menjadi Departemen Keuangan di Jl Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Tapi, gedung mewah ini baru selesai secara keseluruhan 20 tahun kemudian. Sementara itu, Daendels sudah dipanggil pulang.
Karena urung menjadi istana, sayap sebelah kiri gedung yang berhadapan dengan Lapangan Parade Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), sebelum menjadi Departemen Keuangan, digunakan sebagai tempat penginapan para tamu pejabat Pemerintah Belanda. Pada 1839, bagian bawah gedung dimanfaatkan untuk Kantor Pos dan percetakan milik negara. Pada 1 Mei 1848, sebagian bangunan 'istana' yang dinamakan 'Gedung Putih' resmi dipakai untuk Departemen van Justitie (Mahkamah Agung) dan setelah kemerdekaan digunakan sebagai Departemen Keuangan hingga kini.
Pada tahun 1869, bertepatan dengan 200 tahun usia Kota Batavia (Belanda tidak mengakui berdirinya Jayakarta pada 22 Juni 1527), diperingati peristiwa saat Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menaklukkan Jayakarta. JP Coen oleh masyarakat Belanda dianggap sebagai gubernur jenderal yang berjasa dalam merintis penjajahan Belanda di nusantara.
Peresmian Monumen JP Coen diselenggarakan dalam suatu acara yang meriah dan dihadiri hampir seluruh masyarakat Belanda di Batavia. Patung Coen yang memakai pakaian kebesarannya berdiri angkuh dengan tangan sambil menunjuk itu dihancurkan pada 7 Maret 1943 pada masa pendudukan Jepang. Berlainan dengan saat peresmian, ketika monumen ini dihancurkan, masyarakat bertepuk tangan karena lambang kolonialis dihancurkan dari bumi Indonesia.
Ketika 'istana besar' ini dijadikan sebagai kantor pemerintahan, di bagian belakang terdapat tempat parkir kereta kuda angkutan pada masa itu. Di samping kanan gedung Depkeu, dahulunya terdapat klub militer 'Concordia' yang kemudian menjadi tempat sidang-sidang DPR pada masa kabinet parlementer sebelum dibangun gedung MPR/DPR di Senayan. Kini, bekas klub militer Concordia menjadi bagian dari Departemen Keuangan.
Di Departemen Keuangan inilah, masalah-masalah keuangan negara diolah dan diputuskan sejak tahun 1950-an hingga sekarang.
Sumber : Alwi Shahab, wartawan RepublikaDiposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Sejarah
Menelusuri Kawasan Noorwijk
Dengan menggunakan kereta yang ditarik dua ekor kuda (lihat foto), kita akan menelusuri kawasan Noordwijk (kini Jalan Juanda), Jakarta Pusat. Di sini dan di seberangnya Rijswijk (kini Jalan Veteran), yang dipisahkan oleh kanal sodetan Ciliwung, bersama dengan Molenvliet (Jl Hayam Wuruk dan Gajah Mada) serta Harmonie merupakan kawasan yang dibanggakan dan menjadi pintu gerbang Kota Batavia. Bahkan, Belanda ingin mengembalikan Batavia sebagai Queen of the East yang pernah disandangnya pada abad ke-18 ketika membangun Weltevreden (daerah lebih nyaman) sekitar 10 km dari kota tua.
Di Noordwijk, pada masa kolonial merupakan pusat perbelanjaan termewah di Batavia. Di sebelah kiri gedung dengan arsitektur masa lampau, itu terdapat Gang Thibeult (warga Betawi menyebutnya Gang Tibo), yang kini menjadi Jalan Juanda III. Dari nama Alfred Thibault, pengelola Club Harmonie (kini bagian dari Istana Kepresidenan yang diperluas). Sulit dibayangkan Noordwijk yang pada masa kolonial merupakan daerah yang menyenangkan, menjadi salah satu pusat kemacetan di Jakarta. Untuk menyeberang jalan saja, kita harus ekstra hati-hati karena kendaraan yang tidak pernah henti.
Kembali ke Jalan Juanda (Noordwijk) masa kolonial, di sini terdapat Hotel Emst, Hotel de Galeries, Hotel de L'Europe, berbagai kafe yang menyediakan makanan Eropa, serta penjahit A Herment & Bastiere yang menyediakan pesanan baju untuk sipil dan militer. Di Noordwijk, juga terdapat toko buku dan percetakan Kolff yang kini menjadi kantor PT Astra. Di dekatnya hingga kini terdapat Klooster Ursulin tempat pendidikan untuk para biarawati. Tempat pendidikan biarawati ini memanjang hingga bagian belakangnya terletak Jl Batutulis.
Pada masa Raffles (1811-1816), gubernur jenderal yang berambisi agar Hindia-Belanda terus dalam kekuasaan Inggris, telah menyulap Noordwijk dan Rijswijk menjadi kawasan Eropa. Untuk itu, pendiri kota Singapura ini telah menggusur tempat pemakaman umum, rumah penduduk, dan toko-toko milik Cina.
Charles Walter Kinloch, warga Inggris yang datang ke Batavia dari Singapura (1852), menyebutkan kehidupan elite Eropa dan Belanda penuh glamor. Wanitanya senang menggunakan pettycoot dari sutra, seperti kita saksikan di film-film Hollywood yang mengisahkan abad ke-19. Mereka mendatangkan pakaian-pakaian mode terbaru dari Paris dan kota-kota besar Eropa lainnya. Pada malam hari, kelompok elite ini dihibur dengan pesta-pesta dansa dan menonton opera Prancis yang di Eropa sendiri masih langka. Dibukanya Club Harmonie dengan pesta-pesta taman yang selalu ramai memberi bobot pada kawasan ini.
Sumber :
Diposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Sejarah
Jembatan Prapatan-Kwitang pada 1920-an
Jembatan Prapatan-Kwitang pada 1920-an
Foto yang perkiraan tahun 1920-an adalah jembatan Prapatan-Kwitang, Jakarta Pusat. Jembatan yang masih tampak sederhana itu menghubungkan Pasar Tanah Abang-Pasar Senen. Di sebelah kiri yang dipenuhi pepohonan rimbun, sekarang ini berdiri Hotel Arya Duta, yang sebelumnya adalah rumah besar milik Dr Latif, ayah Herawati Diah, yang juga mertua BM Diah. Di sebelah kanan, sekarng terletak Markas Korps Marinir Angkatan Laut. Di seberang jalan raya, terletak Toko Buku Gunung Agung.
Kala itu, di jalan-jalan, rumah dan hotel masih menggunakan lampu gas seperti yang terlihat di atas jembatan. Sungai Ciliwung masih jernih dan lebar serta berperan penting bagi masyarakat untuk mandi, mencuci, dan buang hajat. Sekarang, Ciliwung kehilangan pamornya dan menjadi selokan besar. Dahulu, ketika kali masih dalam dan lebar, di sekitar Kwitang dan Prapatan, tiap tahun diselenggarakan pesta pehcun untuk memperingati 100 hari tahun baru Cina (Imlek). Pehcun merupakan karnaval perahu yang diramaikan musik dan tanjidor di atas perahu yang hilir mudik di Ciliwung.
Di jembatan inilah, kira-kira Nyai Dasima, bekas istri piaraan seorang Inggris, dibunuh oleh jagoan Kwitang, Bang Puase. Mayatnya kemudian dibuang ke Ciliwung dari atas jembatan. Nyai Dasima dibunuh ketika hendak kondangan di Rawabelong, Palmerah, Jakarta Barat.
Gadis bahenol dari Kuripan, Ciseeng, Parung, Bogor, ini terbunuh saat naik sado bersama suaminya, Samiun. Samiun adalah tukang sado yang berhasil merebut sang nyai dari suaminya di Pejambon, yang terletak di bagian belakang gedung Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Kwitang, konon berasal dari nama seorang Cina, Kwee Tiang Kam, yaitu penjual obat tradisional yang masyhur. Saking terkenalnya, kediaman penjual obat ini disebut Kwitang. Kwitang makin dikenal di Jakarta dan mancanegara ketika almarhum Habib Ali Alhabsyi membuka majelis taklim di tempat ini pada 1920-an. Tiap Ahad pagi, majelis taklim ini dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai tempat di Jabodetabek.
Sumber : Alwi Shahab, wartawan Republika
Diposting oleh Wahyudin di Sabtu, Januari 30, 2010 0 komentar
Label: Bangunan Sejarah, Sejarah
Langganan:
Postingan (Atom)




